Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Friday, September 30

Jawaban dan Harapan

Aku terus bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pertanyaan yang sebagian besar orang menjawabnya dengan kata-kata yang sama, sehingga aku tau memang hanya itulah jawaban yang ada, hanya itu jawaban yang tersisa, hanya itu jawaban yang tepat untuk diutarakan sekaligus menjadi kenyataannya. 

Namun entah mengapa aku terus menerus menanyakannya kepada orang lain, orang yang belum pernah aku tanya sebelumnya, orang yang aku harap akan menjawabnya dengan kalimat yang berbeda, orang yang aku harap akan lebih mampu menyimak setiap detail pertanyaanku sehingga mereka lebih mampu memahami maksudku.

Berhari-hari ini aku mencari, aku mencoba, dan aku berharap pada sesuatu yang sudah bisa aku tebak kelanjutannya. Tidak ada perubahan. Tidak ada perbedaan. 

Hanya saja aku belum siap untuk menerima jawabannya. Bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu yang ingin aku dengar. Bukan itu jawaban yang ingin aku terima kenyataannya. 


quote, advice, and answer image
Sumber: www.weheartit.com
Read More

Sunday, June 1

Karena Opini Bebas dari Kata Salah

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan kerabat yang sudah lama tidak saya jumpai. Dari sekian banyaknya hal yang kami perbincangkan, saya paling ingat kalau dia tiba-tiba berbicara seperti ini, "pengen deh punya pacar, tapi males kalo inget masa depan, tapi pengen punya sosok yang peduli sama kita". Saya refleks tertegun. Bukan karena apa-apa, tapi karena tipe seseorang seperti dia bukan sosok yang cocok untuk meresahkan persoalan masa depan, hahaha. Enggak, kata-kata itu gak menyentuh hati saya. Justru, akuilah, terlalu naif berbicara mengenai pacar, masa depan, dan sosok yang mampu mempedulikan kita dalam satu garis kausalitas.

Pertama, pacar. Ya, subjek utama dari serangkain kutipan tadi itu sudah jelas mengenai pacar. Apasih sebenernya pacar itu? Saya juga gak paham, dan saya yakin jawabannya pun relatif. Tergantung kepribadian orang yang jawab, dan dari sudut pandang mana dia menilik. Teman saya--panggil saja X--pernah berkata, "halah yang ki opo to? ra ceto. nek wis nikah gek wis enek surat, wis tercatat karo negara, ndue cincin nggo pengikat. iku baru isoh dipermasalahke. lho iki? ora usah dipermasalahke, soale nek kui wis jelas-jelas masalah". "Alah pacar tuh apa sih? Gak jelas. Kalo udah nikah terus ada surat, udah tercatat sama negara, punya cincin sebagai pengikat, itu baru bisa dipermasalahkan. Lah ini? Gak usah dipermasalahkan juga udah jelas-jelas masalah" waktu itu saya membenarkan ucapannya, dan iya memang benar. Kami bukan sosok yang anti pacaran seperti yang kamu kira kok. X ketika itu juga punya pacar, bahkan umur hubungan mereka sudah tergolong lumayan, 4 tahun, berbeda dengan saya yang baru pertama kali meniti karir dalam hubungan yang sayangnya belum sejauh mereka. Kami hanya berbicara realistis dari sudut pandang senormal-normalnya manusia yang terlepas dari pengaruh cinta-itu-buta.

Dalam agama saya sendiri, sebenarnya pacaran itu dilarang. Tapi gak munafik, ketika ada satu orang yang bisa ngasih kenyamanan berlebih, saat itu juga kita bisa mengabaikan larangan itu. Memang, kenyamanan itu bisa didapat dari banyak orang. Keluarga, sahabat, mereka selalu ada, tapi jangan lupa kalau Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan sehingga mau ngga mau kita membutuhkan lawan jenis yang mampu memenuhi separuh kita. Terlalu dini? Bisa dibilang seperti itu. Tapi, kembali pada kenyamanan, saya tidak bisa serta-merta menolak kenyamanan yang tidak dari semua orang saya mampu mendapatkannya.

Lalu, hubungannya dalam konteks masa depan, seharusnya, justru seorang kekasih yang baik itu mampu mengarahkan, menopang, dan memapah pasangannya ke arah yang lebih baik. Secara tidak langsung, 'lebih baik' yang mampu dihadirkan oleh kekasih tadi mampu membawa kita menuju masa depan yang juga lebih baik. Setidaknya, begitulah teori berbicara. Jadi, menurut saya sendiri, salah ketika seseorang berbicara mengenai kekasih (yang sebenarnya) dan masa depan secara berbanding terbalik. Kekasih yang benar tidak akan menodai, apalagi mengganggu keberlangsungan hidup kita saat ini yang mampu mempengaruhi masa depan. Dia akan senantiasa berdiri hanya untuk sekedar mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan saat ini tidak menuntun kita ke arah yang salah.

Peduli. Ya, sudah jelas kekasih adalah salah satu sosok kerabat yang mampu memberikan rasa pedulinya pada kita. Tapi jangan salah, kita juga bisa mendapatkannya, dari keluarga, sahabat, bahkan dari temanpun kita bisa merasakannya. Hampir mirip dengan kenyamanan, peduli yang kita dapat dari kekasih itu akan terasa berbeda dibanding peduli-peduli yang dilontarkan sosok lainnya. Dalam konteks ini saya tidak pro ataupun kontra dengan pernyataan teman saya yang diawal telah saya kutip, hanya saja...ah terlalu sulit mengungkapkannya. Pada akhirnya, kekasih bukanlah sesuatu yang mampu dijadikan alasan pengganggu masa depan, kekasih memanglah terlabelling sebagai sosok yang satu-satunya terlihat mampu mempedulikan kita, namun ada kalanya kita sadar bahwa kepedulian mampu hadir dari siapa saja, bahwa banyak sosok yang menyayangi kita selain makhluk bernama kekasih di luar sana.


Read More

Monday, May 26

kembali?

aku sudah hampir lupa bagaimana rasanya kembali
kembali dalam semua awal keterciptaan
kembali dalam semua keberadaan
kembali dalam semuanya yang menimbulkan ada
aku lupa bagaimana damai dari kembali
mungkin ia lebur seumpama pasir yang direngkuh dalam untaian jemari?

kembali tak selalu lebih gelap
tak selalu lebih bercahaya
kembali itu ke-anarki-an
yang tergores akibat pecahan kaca yang orang torehkan

jika saja untuk kembali itu mudah

Read More

Sunday, March 16

Hebatnya antonim


Ngga akan seseorang disebut-disebut cantik kalau ngga ada kehadiran si jelek. Nggak akan ada sebutan miskin kalo ngga hadir juga si kaya ditengah-tengahnya. Ngga ada kategori tinggi kalau ngga ada pendek disekelilingnya. Nggak ada yang namanya berkah kalo gak ada musibah yang menjadi acuan. Nggak akan ada yang namanya sakit kalo gak ada sehat sebelumnya. Semua ada karena ketiadaan. Kehidupan hadir dari kehampaan. Dan kausalitas itu mutlak.
Read More

Friday, February 21

Sesederhana itu...

Pernah gak dalam fase hidup kalian, kalian mengalami yang rasanya sayang sama orang? Orang disini bukan sosok Tuhan, keluarga, atau sahabat. Tapi lebih menuju ke satu sosok lawan jenis yang kalian rasa sengaja dikirim Tuhan untuk menemani kalian, untuk menunjukkan kalian kalo ngga semua malaikat itu invisible. Saya pernah. Saya sedang merasakannya. Sejak setahun lebih yang lalu. Sudah pernah juga saya singgung sebelumnya bagaimana pertemuan itu bermula. Pertemuan yang sampai saat ini masih teringat dengan jelas kronologinya.

Saya belum memahami kalau dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemani saya, sampai akhirnya hari demi hari berlalu, dan sekarang, saya takut kehilangannya. Dalam kurun waktu satu tahun, semuanya berubah dengan sangat pesat. Kehadirannya, mampu meleburkan semua ketakutan yang selama ini saya alami. Senyumannya, mampu meluluhlantakkan segala kesedihan yang saya rasakan. Kehangatannya, mampu menghentikan kuatnya putaran waktu dan membuat saya seakan tidak membutuhkan siapa-siapa lagi kecuali dia. Sesederhana itu.

Saya tidak tau kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang saya alami ini. Saya sendiri menilai rasa ini sudah terlalu berlebihan, tapi setiap orang berhak beropini bukan? Berbincang dengannya membuat saya tidak ingin berhenti berbicara. Seandainya kenangan-kenangan itu tetap tersimpan tanpa cela, saya pastikan saya mampu hidup jika hanya bersama kenangan-kenangan itu. Seandainya mereka bisa saya simpan dalam sebuah tabung transparan, saya mampu memiliki tempat tinggal hanya dengan tabung itu sebagai perabotnya. Sesederhana itu.

Untuk saat ini, segalanya masih tetap sama. Masih akan tetap sama. Entah untuk berapa lama. Saya sempat menyesali sifat saya yang seperti ini. Sifat saya yang terlalu percaya pada sosok-sosok yang saya sayangi. Sifat saya yang selalu mampu terpaku hanya pada satu sosok dan benar-benar memberikannya seluruh rasa sayang yang mampu saya berikan. Sifat saya yang terhitung sulit untuk meninggalkan semua-muanya yang memang harus berlalu. Sifat saya yang sulit untuk pergi. Rumah baru yang saya miliki ternyata tidak bertahan lama. Saya terlalu bodoh untuk tidak memilih pondasi yang sangat kuat. Saya terlalu naif untuk percaya bahwa semua yang pergi pasti akan diganti dengan lebih baik. Entah dengan harus kalimat apa lagi saya mendeskripsikan malaikat yang terpaksa harus pergi karena jangka waktu yang ia punya telah habis. Entah kapan Tuhan akan menggantikannya dengan malaikat yang lebih baik dan memiliki jangka waktu yang lebih lama. Semoga malaikat yang sempat menjaga saya bisa menemukan sosok yang lebih baik dan mampu membuatnya bahagia. Semoga malaikat itu tidak semerta-merta melupakan saya seraya ia berhenti menjaga saya. Semoga, ia lebih mampu membahagiakan Tuhan dengan sosok barunya. Sesederhana itu.

....namun seandainya sesederhana itu, apa bisa saya meminta Tuhan agar ia tetap menjaga saya? Atau setidaknya, menjadikan perasaan yang sedang bergejolak ini lebih sederhana? Supaya pada akhirnya, saya bisa dengan cepat melaluinya, mengikhlaskannya.
Read More

Monday, January 27

Antara ngeluh dan merenung

27 Januari, semakin dekat menuju ajaran baru semester IV. Menuju lembaran baru di kehidupan mahasiswa yang ngga terlihat kaya kehidupan mahasiswa. Menuju hari keberangkatan ke tanah rantau untuk mulai babak hidup baru yang lainnya. Postingan kali ini lebih menuju ke renungan diri, dimana saya sadar bahwa saya sudah membuang banyak hal, termasuk waktu. Mungkin kalian berpikir bahwa saya terlalu banyak omong. Mungkin ketika membaca ini, dalam hati kalian mencibir 'udah tau begitu, bukannya diperbaikin, malah ngumbar'. Saya juga kurang paham kenapa saya memilih untuk menuliskannya disini, bukannya merancang list apa saja yang harus saya rombak dalam hidup saya supaya ke depannya ngga ada lagi yang terbuang sia-sia.
Saya mulai masuk ke dunia perkuliahan sekitar 1,5 tahun yang lalu, tapi saya ngga benar-benar merasa kuliah. Entah mengapa, saya merasa ini semua terasa hanya formalitas untuk mendapat gelar. Ya, hanya sekedar gelar supaya tidak kalah bersaing dalam era seperti ini dalam mencari lapangan pekerjaan. Status saya memang mahasiswa, tapi saya tidak pernah paham permasalahan politik dan ekonomi yang melanda negara ini. Saya tidak tahu siapa itu Anas, saya tidak tahu kenapa Farhat Abbas kerap kali dibicarakan masyarakat. Entah apakah ini bentuk keapatisan atau memang saya yang kurang peka terhadap permasalahan politik Indonesia. Pengetahuan umum saya terlampau rendah untuk ukuran mahasiswa semester 3, dan saya merasa jati diri saya belum dapat saya temukan sampai saat ini. Saya bahkan belum paham bakat saya, I don't know what I am good at. Ya, tidak jarang saya iri melihat orang-orang yang aktif di bidangnya, yang asyik melakukan hal yang dia suka dengan keahlian yang menonjol. Tidak jarang juga saya termotivasi untuk melakukan gerakan perubahan dalam hidup saya tatkala melihat pemandangan seperti itu, namun juga umumnya resolusi, itu semua hanya berlalu lalang dalam waktu yang singkat. Disinilah kebodohan saya dimulai.

Belum lama ini, saya melihat pict seperti ini di timeline twitter saya,
dan layaknya energi elektromagnetik, saya terkejut. Haha mungkin saya hanya merasa tersindir, karena selama ini liburan yang saya rencanakan hanya berada dalam sebuah tabung yang sering kita sebut wacana. Maklum, saya sadar diri untuk tidak menyodorkan telapak tangan ke hadapan orang tua saya untuk urusan kesenangan saya semata. Melihat juga keluarga saya yang juga bukan tumbuh dengan kegelimangan harta, saya lebih memilih untuk menabung dan mengumpulkan uang sendiri dalam hal travelling seperti ini. Maka dari itu, semua rencana perjalanan yang sering saya bicarakan bersama teman-teman berujung pada kenihilan semata. Pada dasarnya saya cuma ingin menyatakan, kalau picture itu masuk ke dalam resolusi semester IV saya, ya travelling. Begitu ajaran baru dimulai nanti, menabung bakal ada di deretan list teratas saya. Saya pribadi sih inginnya resolusi ini gak hanya bertahan 1-3 minggu, tapi namanya manusia (apalagi saya) suka ngga konsisten, jadi kita lihat saja ke depannya nanti, does this work or not. 
Untuk resolusi-resolusi lainnya, saya ngga mau sebut di sini. Karena saya ngga yakin bisa merealisasikan itu semua. Bukannya pesimis, tapi saya bukan tipe orang yang muluk-muluk. Saya tahu mana yang bakal saya realisasikan, dan mana yang saya sisakan buat direalisasikan belakangan. Dan kenapa saya menyebutkan perihal travelling, karena saya yakin hal itu mampu saya lakukan, travelling dari hasil menabung. Saya juga ngga paham dari mana bisa nemuin percaya diri yang sebesar ini, haha. Tapi saya sudah memutuskan nantinya akan mencanangkan the power of 20ribu haha walau masih ragu mau 20rb atau 10rb-__- Yah, apapun itu, walaupun travellingnya batal, setidaknya menabung itu ngga ada salahnya kan. 
Mungkin muncul pertanyaan, apa hubungannya travelling sama masalah renungan diri yang saya lontarkan di awal postingan. Saya hanya berpikir, bahwa saya kurang menjelajah hidup. Saya kurang bisa membuka diri, sampai akhirnya seperti ini. Belum memahami diri sendiri, belum memahami bakat saya, dan bahkan hal yang saya sukai. Entah sampai kapan saya bertahan dengan hidup dengan pola garis lurus begini. Entah sampai kapan saya akan merubah kegiatan saya bukan lagi sebagai formalitas. Entah kapan saya bisa menjadi mahasiswi layaknya mahasiswi yang bisa kritis dengan keadaan negara. Entah kapan saya bisa menjadi aktivis yang bisa merubah suatu kondisi atau minimal mengadakan acara sendiri. Entah, dan entah......Lagipula, siapa sih di muka bumi ini yang ngga ingin jadi seseorang yang bisa sukses karena dia mampu mengenal siapa dia? Everyone does, of course. Saya nggak tahu bagaimana ke depannya. Namun satu hal yang saya harap, saya ngga cuma bergantung sama takdir Allah dan cuma mengiyakan alurNya.
Read More