![]() |
| Sumber: static.tumblr.com |
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts
Friday, July 21
Waktu masih terus berjalan. Pun hidup yang kian lama kian menggantikan pemahaman saya pada banyak hal. Belum signifikan memang pergeserannya, karena hidup saya yang memang masih monoton, belum jua menemukan fase kehidupan selanjutnya.
Sudah sejak Mei silam saya kembali ke rumah saya yang sesungguhnya, namun ironisnya, hati dan pikiran saya masih di rumah saya yang sempat berada di seberang sana.
Belum kuat untuk menerima kenyataan-kenyataan baru yang harus saya telan keberadaannya.
Entahlah, mungkin ke-tidak-kuatan ini hanya perasaan yang saya artikan karena saya belum memiliki kesibukan lainnya.
Mungkin, ke-tidak-kuatan itu akan memudar seiring saya memiliki kesibukan baru dan memasuki fase hidup yang seharusnya saya jalani di usia saya yang kian tua, hehe ― tidak ada yang tau.
Tidak terasa sudah hampir 1/4 tahun saya membawa gelar S.Ikom yang belum jua mendapatkan jodoh pekerjaannya. Kalau dibilang belum siap bekerja, saya pikir tidak ada satupun orang di dunia ini yang siap bekerja, menghabiskan tenaga dan menanggung beban pikiran, semata-mata untuk kehidupan masa depannya sendiri.
Saya pikir tidak ada di kehidupan ini manusia senaif itu yang semangat bekerja untuk mencari selembar dua lembar kertas cetakan Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Ya namun inilah hidup, harus ada usaha dan pengorbanan yang dilakukan untuk mampu membahagiakan jiwa dan raganya.
We have to give, to take something, also take to give something.
Tidak munafik, saya belum siap untuk bekerja karena masih terbayang-bayang kehidupan lampau yang setiap harinya dipenuhi gelak tawa. Saya takut di tahap ini tidak akan menemukan kenyamanan seperti yang saya dapatkan di waktu silam.
Namun, bukankah kita semua begitu? Terlalu terpuruk akan kemungkinan-kemungkinan terburuk, menciptakan phobia yang sebenarnya hanya ada dalam pikiranmu? Entahlah.
Kata orang, berdamailah dulu pada dirimu sendiri, maka semuanya akan damai pula kemudian. Ya saya tahu, saya yakin, juga percaya, saya butuh kehidupan baru untuk menutup lubang-lubang kehidupan lama yang kian lama terbuka makin lebar.
Namun, naifkah saya kalau berpikir bahwa bekerja dan pekerjaan adalah sesuatu yang sudah diatur oleh penguasa alam? Naifkah saya kalau menganut pemikiran bahwa profesi saya nantinya adalah obat untuk luka saya yg menganga ini? Naifkah saya untuk tidak melulu berusaha secara maksimal karena percaya bahwa segalanya adalah kehendakNya?
Ah....
Sudahlah.
Selamat malam, langit malam. Sampaikan pada cahaya-cahaya di sana, bahwa aku adalah pengagum malam. Sampaikan pada cahaya-cahaya di sana, bahwa berkat gelapnya, kalian adalah guratan indah yang membawa ketenangan.
Dan berkatnya, kalian berdua adalah salah satu seteru yang aku kagumkan.
Sunday, November 6
Mendayu-dayu
Entah ada angin apa, tiba-tiba saya berkeinginan buat ngerubah tatanan blog ini. Udah bosen kali ya, ditambah template yang terakhir belum saya edit maksimal jadinya ngerasa kurang aja gitu. Dan tadaaaa!!!!! Ini dia tampilanmu sekarang. Lebih cantik, ya walau belum bisa make over kamu secara expert, maklum aku mah masih tergolong gaptek hiks, but at least youre growing much better :)))
Kalau ada yang berpikir 'ih masih aja mainan blog, udah gak jaman ah' saya sih emang setuju. Setuju banget karena kita tahu seiring berkembangnya teknologi, hadirlah vlog di kehidupan ini. 'Terus kalo setuju kenapa masih mainin blog?' Hm sebenarnya jawabannya simple sih, karena saya mainin blog bukan untuk mengikuti trend semata. Karena saya lebih suka menceritakan kehidupan saya melalui kata-kata. Karena saya lebih suka untuk menginterpretasikan sesuatu yang berbentuk kata-kata. Karena saya lebih suka mengingat kemudian membayangkan kejadian masa lampau di dalam pikiran. Walau audio visual terlihat lebih nyata, namun saya merasa kata-kata mampu membuat segalanya lebih hidup dan lebih dramatis, hehe. Yah walau pada kenyataannya saya udah jarang banget posting sesuatu di blog ini :( Padahal yang baca juga ngga ada sih jadi gaada yang dirugikan wkwk ironi. Ya setidaknya buat portofolio kehidupan aja tanpa ada maksud lain.
Kalau ada yang berpikir 'ih masih aja mainan blog, udah gak jaman ah' saya sih emang setuju. Setuju banget karena kita tahu seiring berkembangnya teknologi, hadirlah vlog di kehidupan ini. 'Terus kalo setuju kenapa masih mainin blog?' Hm sebenarnya jawabannya simple sih, karena saya mainin blog bukan untuk mengikuti trend semata. Karena saya lebih suka menceritakan kehidupan saya melalui kata-kata. Karena saya lebih suka untuk menginterpretasikan sesuatu yang berbentuk kata-kata. Karena saya lebih suka mengingat kemudian membayangkan kejadian masa lampau di dalam pikiran. Walau audio visual terlihat lebih nyata, namun saya merasa kata-kata mampu membuat segalanya lebih hidup dan lebih dramatis, hehe. Yah walau pada kenyataannya saya udah jarang banget posting sesuatu di blog ini :( Padahal yang baca juga ngga ada sih jadi gaada yang dirugikan wkwk ironi. Ya setidaknya buat portofolio kehidupan aja tanpa ada maksud lain.
Selepas dari itu, di sisi lain, ada hal lain yang saya gak tahu harus menceritakannya mulai dari mana.
Bahwa....
Mungkin benar apa yang dikatakan orang, terkadang bukan sosoknya yang kita rindukan, bukan sosoknya yang kita inginkan. Melainkan kesulitan dalam menghilangkan kebiasaan bersama, kesulitan menghadapi kenyataan bahwa kenangannya lah yang kita rindukan.
Aku selalu mengharapkan kau kembali. Setiap saat. Bahkan hingga detik ini. Namun saat itu tiba, aku justru terbangun. Aku sadar bahwa dalam sebuah hubungan rasa sayang tidaklah cukup. Bahwa logika dan hati memang selalu berbanding terbalik, namun tetap, rasionalitas harus bisa digapai antara perbedaan itu. Aku paham bahwa tidak selamanya keterpurukan ini membawa duka. Lihat saja hujan yang terkadang memberikan pelangi di penghujungnya, tanah subur yang diakibatkan oleh lelehan lava, dan letihnya perjalanan mendaki gunung untuk menikmati puncaknya.
Saya yakin bahwa sebab-akibat tidak pernah berdusta, bahwa mereka akan menemukan jalannya sendiri untuk menciptakan keadilan di hidup seseorang. Bagaimanapun. Bahkan ketika ia bekerja secara rahasia.
![]() |
| Sumber: www.tumblr.com |
Friday, September 30
Jawaban dan Harapan
Aku terus bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pertanyaan yang sebagian besar orang menjawabnya dengan kata-kata yang sama, sehingga aku tau memang hanya itulah jawaban yang ada, hanya itu jawaban yang tersisa, hanya itu jawaban yang tepat untuk diutarakan sekaligus menjadi kenyataannya.
Namun entah mengapa aku terus menerus menanyakannya kepada orang lain, orang yang belum pernah aku tanya sebelumnya, orang yang aku harap akan menjawabnya dengan kalimat yang berbeda, orang yang aku harap akan lebih mampu menyimak setiap detail pertanyaanku sehingga mereka lebih mampu memahami maksudku.
Berhari-hari ini aku mencari, aku mencoba, dan aku berharap pada sesuatu yang sudah bisa aku tebak kelanjutannya. Tidak ada perubahan. Tidak ada perbedaan.
Hanya saja aku belum siap untuk menerima jawabannya. Bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu yang ingin aku dengar. Bukan itu jawaban yang ingin aku terima kenyataannya.
![]() |
| Sumber: www.weheartit.com |
Wednesday, February 17
Kuliah Kerja Ngangenin
Aku ingat tahun lalu
terlalu bersemangat ketika mendapat kabar bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN)
kembali diadakan.Ingat bagaimana aku membayangkan betapa serunya KKN ketika
mendengar pengalaman KKN dari seorang kakak tingkat, mbak Lia. Aku ingat bagaimana aku sering mengeluh
karena aku harus menjalani magang terlebih dahulu, baru kemudian bisa mengambil
KKN pada semester berikutnya. Ingat bagaimana aku dan teman-teman memiliki
wacana untuk KKN mandiri, namun gagal. Ingat bagaimana pemikiran-pemikiran tersebut berputar 180
derajat tepat di saat aku memulai KKN-ku. Ingat bagaimana aku menyesal menolak
sendiri ajakan untuk KKN mandiri ke Belitung.
Ingat bagaimana penyesalanku akan pemikiran-pemikiran positif mengenai
KKN.
Kuliah Kerja Nyata.
Kegiatan yang pada
awalnya sangat menarik untuk diikuti, hingga kemudian sadarlah aku bahwa itu
bukanlah sesuatu yang seharusnya dinantikan, walau pada akhirnya aku paham
bahwa kegiatan satu kali seumur hidup ini terlalu singkat-45 hari. Sesuatu yang baru memang membuat waktu terasa begitu lama
pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu itu sendiri menyadarkan bahwa 45
hari saja tidak cukup. Bahwa 45 hari itu adalah masa-masa singkat yang ntah
dengan magic apa bisa merupakan pikiran, tingkah laku, bahkan
kebiasaan.Termasuk di sini tak lain adalah aku. Aku belajar banyak hal. Aku
diberi wawasan-wawasan baru yang sebenarnya sepele namun aku sendiri tidak
memahaminya. Aku sedikit demi sedikit mulai belajar untuk bisa bicara bahasa
Jawa, belajar menyalakan api di pawon, belajar menyusuri jalan di medan yang
terjal berbatu. Untuk pertama kalinya aku mandi di kali, and for God's sake I love it. Pertama kalinya
juga menyetir motor sendiri dengan rekor baru mengenai jarak dan waktu. Pertama
kalinya melihat langsung mengumpulkan cacing yang didapat langsung dari tanah
ketika kerja bakti. Pertama kalinya aku merasakan nasi jagung. Pertama kalinya
juga aku menjadi MC dalam suatu acara, walau kenyataannya gak semulus yang ada
dalam ekspektasi, haha. Pertama kalinya aku merasa bahwa beban yang seharusnya
dipikul selama KKN ini bisa teredam, bahwa hidup yang seperti ini tidaklah
sulit selama aku memiliki partner yang luar biasa. Dan untuk pertama kalinya
dalam kehidupan perkuliahan, aku hidup dengan orang-orang yang sama sekali
memiliki kebiasaan dan pemikiran yang jauh berbeda, namun justru aku menikmati
setiap detiknya, setiap inch dari pergerakannya.
Aku memutuskan untuk
memilih Pacitan, hingga akhirnya aku ditempatkan di Desa Jeruk, Bandar, dengan
total anggota 10 orang; 2 laki-laki, 8 perempuan. Itu awal dari penyesalanku
akan pemikiran-pemikiran positif mengenai KKN. How
could it be possible when I had only 2 men in this group? Ditambah dengan aku yang tidak bisa memahami
pembicaraan mereka-aku sadar ini salahku yang tidak berusaha untuk menyesuaikan
adat dan kebiasaan masyarakat sekitar. Berbeda dengan kehidupan perkuliahanku,
dimana justru teman-temanku yang mengikutiku untuk mengobrol menggunakan bahasa
Indonesia." I am not fit in here" that's
what I thought at first I saw them. Dan sejak
saat itulah, KKN tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik di mataku.
Setidaknya sampai
mereka bisa memahami kondisiku bahwa aku kurang fasih dalam memahami dan
berbicara bahasa Jawa.
Setiap hari
menjalani hidup bersama. Mereka hal terakhir yang kulihat setiap malamnya, dan
hal pertama yang terlihat di setiap pagi saat membuka mata. And I started to usual with this. I started to love
them, no exception.
"Time goes so fast on things we loves too
much"
Hanya itu kata-kata
yang mampu mewakilkan seluruhnya.
45 hari yang pada
awalnya terasa lama, 45 hari yang pada awalnya aku kira akan menjadi hari-hari
membosankan, 45 hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya, saat ini berubah sekejap
menjadi 45 hari yang singkat--terlalu amat singkat untuk dijalani bersama kalian,
menjadi 45 hari yang aku harap setiap detiknya akan berjalan lama, menjadi 45
hari yang membuatku berharap bahwa 1 hari lebih dari 24 jam.
"Di saat kau
merasa nyaman akan suatu situasi, di saat itu juga garis perpisahan akan segera
membentang"
Lagi-lagi, aku
dihadapkan dengan situasi seperti ini. Berpisah di saat aku sudah merasa
nyaman, beradaptasi lagi saat aku belum bisa merelakan.
"Bersamamu ku
habiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna,
sayang untuk mengakhirinya" Lirik lagu Ipang - Sahabat Kecil ini yang
terbesit begitu saja di pikiranku ketika aku menulis ini semua.
Sampai jumpa di
kehidupan selanjutnya, tim KKNPenthol!
Sunday, June 1
Karena Opini Bebas dari Kata Salah
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan kerabat yang sudah lama tidak saya jumpai. Dari sekian banyaknya hal yang kami perbincangkan, saya paling ingat kalau dia tiba-tiba berbicara seperti ini, "pengen deh punya pacar, tapi males kalo inget masa depan, tapi pengen punya sosok yang peduli sama kita". Saya refleks tertegun. Bukan karena apa-apa, tapi karena tipe seseorang seperti dia bukan sosok yang cocok untuk meresahkan persoalan masa depan, hahaha. Enggak, kata-kata itu gak menyentuh hati saya. Justru, akuilah, terlalu naif berbicara mengenai pacar, masa depan, dan sosok yang mampu mempedulikan kita dalam satu garis kausalitas.
Pertama, pacar. Ya, subjek utama dari serangkain kutipan tadi itu sudah jelas mengenai pacar. Apasih sebenernya pacar itu? Saya juga gak paham, dan saya yakin jawabannya pun relatif. Tergantung kepribadian orang yang jawab, dan dari sudut pandang mana dia menilik. Teman saya--panggil saja X--pernah berkata, "halah yang ki opo to? ra ceto. nek wis nikah gek wis enek surat, wis tercatat karo negara, ndue cincin nggo pengikat. iku baru isoh dipermasalahke. lho iki? ora usah dipermasalahke, soale nek kui wis jelas-jelas masalah". "Alah pacar tuh apa sih? Gak jelas. Kalo udah nikah terus ada surat, udah tercatat sama negara, punya cincin sebagai pengikat, itu baru bisa dipermasalahkan. Lah ini? Gak usah dipermasalahkan juga udah jelas-jelas masalah" waktu itu saya membenarkan ucapannya, dan iya memang benar. Kami bukan sosok yang anti pacaran seperti yang kamu kira kok. X ketika itu juga punya pacar, bahkan umur hubungan mereka sudah tergolong lumayan, 4 tahun, berbeda dengan saya yang baru pertama kali meniti karir dalam hubungan yang sayangnya belum sejauh mereka. Kami hanya berbicara realistis dari sudut pandang senormal-normalnya manusia yang terlepas dari pengaruh cinta-itu-buta.
Dalam agama saya sendiri, sebenarnya pacaran itu dilarang. Tapi gak munafik, ketika ada satu orang yang bisa ngasih kenyamanan berlebih, saat itu juga kita bisa mengabaikan larangan itu. Memang, kenyamanan itu bisa didapat dari banyak orang. Keluarga, sahabat, mereka selalu ada, tapi jangan lupa kalau Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan sehingga mau ngga mau kita membutuhkan lawan jenis yang mampu memenuhi separuh kita. Terlalu dini? Bisa dibilang seperti itu. Tapi, kembali pada kenyamanan, saya tidak bisa serta-merta menolak kenyamanan yang tidak dari semua orang saya mampu mendapatkannya.
Lalu, hubungannya dalam konteks masa depan, seharusnya, justru seorang kekasih yang baik itu mampu mengarahkan, menopang, dan memapah pasangannya ke arah yang lebih baik. Secara tidak langsung, 'lebih baik' yang mampu dihadirkan oleh kekasih tadi mampu membawa kita menuju masa depan yang juga lebih baik. Setidaknya, begitulah teori berbicara. Jadi, menurut saya sendiri, salah ketika seseorang berbicara mengenai kekasih (yang sebenarnya) dan masa depan secara berbanding terbalik. Kekasih yang benar tidak akan menodai, apalagi mengganggu keberlangsungan hidup kita saat ini yang mampu mempengaruhi masa depan. Dia akan senantiasa berdiri hanya untuk sekedar mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan saat ini tidak menuntun kita ke arah yang salah.
Peduli. Ya, sudah jelas kekasih adalah salah satu sosok kerabat yang mampu memberikan rasa pedulinya pada kita. Tapi jangan salah, kita juga bisa mendapatkannya, dari keluarga, sahabat, bahkan dari temanpun kita bisa merasakannya. Hampir mirip dengan kenyamanan, peduli yang kita dapat dari kekasih itu akan terasa berbeda dibanding peduli-peduli yang dilontarkan sosok lainnya. Dalam konteks ini saya tidak pro ataupun kontra dengan pernyataan teman saya yang diawal telah saya kutip, hanya saja...ah terlalu sulit mengungkapkannya. Pada akhirnya, kekasih bukanlah sesuatu yang mampu dijadikan alasan pengganggu masa depan, kekasih memanglah terlabelling sebagai sosok yang satu-satunya terlihat mampu mempedulikan kita, namun ada kalanya kita sadar bahwa kepedulian mampu hadir dari siapa saja, bahwa banyak sosok yang menyayangi kita selain makhluk bernama kekasih di luar sana.
Sunday, March 9
Ini Aksiku! Mana Aksimu?!
Hai!!! H-21 menuju Earth Hour hehehe. Well , tau kan earth hour? ituloh event yang kita matiin lampu selama sejam.Ya, pasti sekelibet pernyataan seperti itu yang terlintas dipikiran kita kalo mendengar kata Earth Hour haha. Kenapa saya bilang begini? Karena gak munafik, sayapun melakukannya sebelum saya tahu lebih lanjut seperti sekarang. Iya, untuk saat ini saya sudah lebih tahu. Ternyata Earth Hour gak cuma terbatas di situ, tapi mencakup banyak hal. Apapun yang kita bisa lakukan untuk lebih ramah terhadap bumi, itu juga lah yang menjadi 'cakupan wilayah' Earth Hour ini.
Saya sendiri tau Earth Hour itu sejak saya duduk di bangku SMP. Entah bagaimana kronologinya, tapi yang mampu saya ingat hanya satu hal: matikan lampu dan listrik selama satu jam. Bukan maksudnya membanggakan diri atau ingin melampirkan suatu pencitraan, namun memang setiap kali saya dengar Earth Hour akan diadakan, saya selalu excited. Entah mengapa. Waktu itu, saya belum mengerti kalau acara ini diadakan setiap tahunnya diseluruh dunia. Bahkan saya baru tahu kalau ternyata Earth Hour itu juga memiliki puncak acara yang biasanya diadakan si tiap kota yang sudah mendedikasikan dirinya untuk bergabung. Satu kota, satu acara besar, sebagai simbolis. Ya, Solo yang—kalau tidaksalah—dua tahun lalu mendedikasikan diri untuk bergabung ke komunitas itu mampu memberi saya pelajaran baru untuk yang kesekian kali.
Singkat cerita, saya mengajukan diri menjadi volunteer acara Earth Hour Solo ini. Dan, disinilah semuanya bermula. Eits, bukan apa-apa, tapi permulaan saya mengetahui lebih luas mengenai Earth Hour. Saya akui, mereka semua mulia. Ya, orang-orang yang bergabung di dalamnya. Ternyata, manusia se-serakah itu, hingga akhirnya keserakahan itu menjadikan bumi rapuh. Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa disini saya bukan hadir untuk menjadi seseorang yang sok suci yang tidak pernah melakukan sedikitpun perbuatan yang bisa menambah keusangan bumi. Saya hanya ingin sedikit merekonstruksi segala hal yang mampu saya rekonstruksikan, dengan tujuan supaya siapapun manusia yg belum tahu mampu mengerti, dan syukur-syukur mampu merubah pola hidupnya menjadi lebih 'hijau'.
Berawal dari komitmen yang dibuat oleh para volunteer, saya pun semakin terbiasa. Pada awalnya, saya sudah sadar bahwa saya adalah tipe orang yang selalu mematikan lampu ketika tidak diperlukan. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk menggunakan listrik seperlunya. Setelah itu saya juga berkomitmen untuk mengurangi penggunaan tissue dan membawa tumbler sendiri kemanapun saya pergi. Tidak munafik, kita semua butuh listrik, kita butuh tissue, dan pastinya kita membutuhkan air minum dalam melakukan aktivitas—yang terkadang tidak bisa kita pungkiri bahwa kita untuk memutuskan beli. Saya tekankan sekali lagi, keberadaan Earth Hour disini bukanlah memaksa manusia melakukan hal-hal yang sekiranya bisa merusak bumi, namun meminimalisir. Jika dilihat, memang ini hanyalah hal sepele yang terlihat tidak berefek apa-apa. Tapi coba silahkan dipikir matang-matang, jika satu persatu orang mulai menyadarinya, berapa persen bumi mampu terselamatkan?
"Everything starts with one."
Dua minggu silam, komunitas Earth Hour di seluruh kota melakukan aksi serentak dengan tema #plastiktakasik, sedangkan hari ini kami kembali mengadakan aksi serentak dengan tema #BijakKertas. Di Solo sendiri, aksi ini diadakan di Jl. Slamet Riyadi bersamaan dengan diadakannya Car Free Day.
Jadi, ini aksiku! Mana aksimu?!
Friday, February 21
Sesederhana itu...
Pernah gak dalam fase hidup kalian, kalian mengalami yang rasanya sayang sama orang? Orang disini bukan sosok Tuhan, keluarga, atau sahabat. Tapi lebih menuju ke satu sosok lawan jenis yang kalian rasa sengaja dikirim Tuhan untuk menemani kalian, untuk menunjukkan kalian kalo ngga semua malaikat itu invisible. Saya pernah. Saya sedang merasakannya. Sejak setahun lebih yang lalu. Sudah pernah juga saya singgung sebelumnya bagaimana pertemuan itu bermula. Pertemuan yang sampai saat ini masih teringat dengan jelas kronologinya.
Saya belum memahami kalau dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemani saya, sampai akhirnya hari demi hari berlalu, dan sekarang, saya takut kehilangannya. Dalam kurun waktu satu tahun, semuanya berubah dengan sangat pesat. Kehadirannya, mampu meleburkan semua ketakutan yang selama ini saya alami. Senyumannya, mampu meluluhlantakkan segala kesedihan yang saya rasakan. Kehangatannya, mampu menghentikan kuatnya putaran waktu dan membuat saya seakan tidak membutuhkan siapa-siapa lagi kecuali dia. Sesederhana itu.
Saya tidak tau kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang saya alami ini. Saya sendiri menilai rasa ini sudah terlalu berlebihan, tapi setiap orang berhak beropini bukan? Berbincang dengannya membuat saya tidak ingin berhenti berbicara. Seandainya kenangan-kenangan itu tetap tersimpan tanpa cela, saya pastikan saya mampu hidup jika hanya bersama kenangan-kenangan itu. Seandainya mereka bisa saya simpan dalam sebuah tabung transparan, saya mampu memiliki tempat tinggal hanya dengan tabung itu sebagai perabotnya. Sesederhana itu.
Untuk saat ini, segalanya masih tetap sama. Masih akan tetap sama. Entah untuk berapa lama. Saya sempat menyesali sifat saya yang seperti ini. Sifat saya yang terlalu percaya pada sosok-sosok yang saya sayangi. Sifat saya yang selalu mampu terpaku hanya pada satu sosok dan benar-benar memberikannya seluruh rasa sayang yang mampu saya berikan. Sifat saya yang terhitung sulit untuk meninggalkan semua-muanya yang memang harus berlalu. Sifat saya yang sulit untuk pergi. Rumah baru yang saya miliki ternyata tidak bertahan lama. Saya terlalu bodoh untuk tidak memilih pondasi yang sangat kuat. Saya terlalu naif untuk percaya bahwa semua yang pergi pasti akan diganti dengan lebih baik. Entah dengan harus kalimat apa lagi saya mendeskripsikan malaikat yang terpaksa harus pergi karena jangka waktu yang ia punya telah habis. Entah kapan Tuhan akan menggantikannya dengan malaikat yang lebih baik dan memiliki jangka waktu yang lebih lama. Semoga malaikat yang sempat menjaga saya bisa menemukan sosok yang lebih baik dan mampu membuatnya bahagia. Semoga malaikat itu tidak semerta-merta melupakan saya seraya ia berhenti menjaga saya. Semoga, ia lebih mampu membahagiakan Tuhan dengan sosok barunya. Sesederhana itu.
....namun seandainya sesederhana itu, apa bisa saya meminta Tuhan agar ia tetap menjaga saya? Atau setidaknya, menjadikan perasaan yang sedang bergejolak ini lebih sederhana? Supaya pada akhirnya, saya bisa dengan cepat melaluinya, mengikhlaskannya.
Wednesday, February 19
Pray for Indonesia.
Hai, memasuki minggu kedua
tahun ajaran baru saya sedikit nervous. Entah kenapa haha mungkin atmosfernya
aja yang seakan memaksa saya buat harus merubah pola hidup yang bisa
menggagalkan untuk bisa dapet IP yang lebih bagus. Sejauh ini memang belum
keliatan gimana gimana dosen dan sistem pembelajaran yang bakal saya tempuh,
tapi satu hal yang pasti...saya harus bisa lebih serius. Membandingkan IP saya
dengan teman-teman sedikit memberi saya acuan untuk bisa lebih serius, walau
pada nyatanya alhamdulillah saya masih bisa ambil sks full sampai semester ini.
Haaah mbok syukuri apa yang ada to ndok.....eits, mensyukuri bukan berarti kita
gak perlu berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dong hehe kalo bisa, why not?
By the way, beberapa hari
kemarin saya dapet pengalaman yang benar-benar waw. Sepeninggal meletusnya
gunung Kelud silam, kota rantau saya turut merasakan dampaknya. Dan saat itu
juga, saya perdana merasakan bagaimana rasanya berada dalam situasi ketika alam
memberontak. Di malam gunung akhirnya meletus, saya dan teman kos dan juga
warga Solo lainnya, mampu mendengar dengan jelas bagaimana dentuman suaranya.
Kalo digambarkan, suaranya serupa suara petir tapi bedanya suara ini kontinu
gak berhenti-berhenti mungkin ada sekitar 3-5 menit. Bersamaan dengan itu, saya
juga merasakan getaran yang memang gak hebat, bahkan terhitung kecil karena
barang-barang gak sampai pindah tempat. Tapi nyatanya, getaran itu mampu
membuat kaca rumah seberang kos saya serta fiber ikut bergetar. Dan dari cerita
seseorang yang saat itu lagi asyik nonton di XXI, dia juga mampu merasakan
getarnya, bahkan mungkin lebih terasa daripada yang saya rasakan.
Alhamdulillah, Allah masih menjaga kota ini dengan enggan memberi yang lebih
parah. Saya masih mampu tidur nyenyak pada Kamis malam namun lebih menuju Jumat
dini hari itu. Sebangunnya saya di pagi hari, saya dikabarkan melalui sms untuk
tidak keluar kos pada hari itu. Saat itu juga saya tahu bahwa Solo dilanda
hujan abu. Jujur saya tidak percaya, sampai akhirnya saya memastikan sendiri
dengan melihat pemandangan luar secara langsung. Yah, benar saja. Satu hal yang
mampu saya petik saat itu, "sehebat ini Allah mampu merubah kehidupan seseorang
hanya dalam sekejap". Bagaimana tidak? Saya yang tidak pernah merasakan
bagaimana bencana alam, dan notabenenya juga tidak pernah membayangkan, dalam
seketika itu pula saya mendengar langsung suara letusan gunung + getarannya
beserta hujan abu langsung dari letusan gunung berapi tersebut. Saya ngga mampu
membayangkan bagaimana warga lyang berdomisili disana menyikapi bencana seperti ini. Saya sendiri
yang letaknya jauh dari lokasi kejadian merasa bahwa efeknya sangat
mempengaruhi. Belum kelar dengan banjir Jakarta dan musibah gunung Sinabung, warga Indonesia sudah harus
merasakan bencana lain seperti ini. Benar-benar saya ngga bisa membayangkan
bagaimana perasaan warga setempat. Saya turut simpati atas kejadian-kejadian
yang akhir-akhir ini melanda NKRI #PrayForIndonesia. Semoga semuanya akan
membaik sesegera mungkin, dan semoga kejadian ini mampu menyadarkan kita akan
kurang lebihnya peran manusia sehingga mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Dan
semua warga yang merasakan efeknya mampu diberi kesabaran dan ketabahan
menjalani bencana ini. Allahuma amin.
Friday, January 31
Pertemuan Singkat
Hari ini, alasan kebahagiaan masa lalu saya akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamannya demi menjumpai—yang tak lain juga merupakan—alasan kebahagiaannya di masa lampau. Hari ini, saya kembali diberikan kenyamanan oleh rumah yang dahulu pernah saya huni. Dan hari ini, saya kembali disadarkan bahwa rasa syukur tidaklah sulit untuk dipanjatkan, bahwa kita selalu dapat menemukan alasannya di setiap lembar kehidupan.
Pertemuan ini merupakan pertemuan yang akhirnya diadakan setelah berbulan-bulan yang lalu kami bersua dan bercengkrama. Pertemuan yang.......yah, tergolong sangat singkat :") Mereka adalah kebahagiaan yang saya temukan ketika saya menduduki bangku SMA beberapa tahun silam, dan saya yakin bahwa saya juga bagian dari masing-masing alasan mereka mampu menceritakan memori-memori konyol mengenai kehidupan kepada anak-anaknya kelak. Hebatnya, biasan kebahagiaan yang mereka ciptakan ngga berhenti begitu aja seraya kita pisah dan kemudian dipenjara oleh kesibukan masing-masing. Bahkan sampai detik ini, saya mampu merasakan euphoria bahagia hanya dengan menatap foto-foto seputar kami. Ya, sesederhana itu.
Kali ini, waktu kami buat singkat dengan karaoke. Ya, karaoke dua jam bersama mereka itu engga terasa. Jangankan dua jam, dua tahun menjalani hidup bareng aja engga berasa, tau-tau pisah. Haha siapa yang hebat, saya juga ngga ngerti. Entah itu waktu, entah itu mereka, saya rasa keduanya sama-sama hebat, dan gak heran kalo hasilnya juga segini berpengaruhnya ke hidup saya. Saya sudah sering mengungkapkan hal ini di postingan-postingan sebelumnya, bahwa mereka adalah penopang jarak jauh yang mampu menyadarkan saya bahwa ini nyata. Pedih yang saya alami akibat berpisah sementara dengan mereka, selalu mengingatkan saya bahwa hanya saya sendirilah yang mampu menyudahi hal itu. Secepat mungkin. Untuk kemudian bisa "pulang".
Obrolan sederhana mengenai rencana jangka pendek dan impian masa depan juga mewarnai pertemuan kala itu. Mengenai perjalanan-perjalanan luar kota yang belum sempat dan belum mampu dilakukan oleh bocah tengik semasa SMA dulu. Perjalanan sederhana ke tempat baru yang ingin kami jelajahi, gunung-gunung yang ingin kami daki, dan laut yang ingin kami arungi. Ya, saya rasa kota lain juga berhak mendengar gelak tawa yang terangkai dari bibir kami. Impian-impian masa depan mengenai wisuda dan pernikahan, yang entah kenapa hal satu ini tidak pernah bosan untuk dibahas. Mengenai salah satu dari kami yang insyaAllah akan wisuda tahun depan, dan siapa antara kami yang nantinya akan menikah duluan. Mengenai kebaya macam apa yang akan kami kenakan di setiap pernikahan masing-masing dari kami, dan siapa saja yang akan hadir di wisuda masing-masing dari kami. Mengenai apakah pada akhirnya X akan bersama dengan Y, W bersama dengan X, ataukah J dengan K. Dan banyak pembicaraan-pembicaraan lain yang mengalir begitu saja, yang mampu menuntun kami ke dalam kesadaran dan pemahaman bahwa kami telah banyak melangkah, bahwa setiap langkah yang kami pilih menjadikan kehidupan yang kami jalani kian runyam, bahwa hidup tidak pernah sama, dan bahwa disetiap fakta yang tadi disebutkan, kami berusaha untuk selalu mampu bersama.
Monday, January 27
Antara ngeluh dan merenung
27 Januari, semakin dekat menuju ajaran baru semester IV. Menuju lembaran baru di kehidupan mahasiswa yang ngga terlihat kaya kehidupan mahasiswa. Menuju hari keberangkatan ke tanah rantau untuk mulai babak hidup baru yang lainnya. Postingan kali ini lebih menuju ke renungan diri, dimana saya sadar bahwa saya sudah membuang banyak hal, termasuk waktu. Mungkin kalian berpikir bahwa saya terlalu banyak omong. Mungkin ketika membaca ini, dalam hati kalian mencibir 'udah tau begitu, bukannya diperbaikin, malah ngumbar'. Saya juga kurang paham kenapa saya memilih untuk menuliskannya disini, bukannya merancang list apa saja yang harus saya rombak dalam hidup saya supaya ke depannya ngga ada lagi yang terbuang sia-sia.
Saya mulai masuk ke dunia perkuliahan sekitar 1,5 tahun yang lalu, tapi saya ngga benar-benar merasa kuliah. Entah mengapa, saya merasa ini semua terasa hanya formalitas untuk mendapat gelar. Ya, hanya sekedar gelar supaya tidak kalah bersaing dalam era seperti ini dalam mencari lapangan pekerjaan. Status saya memang mahasiswa, tapi saya tidak pernah paham permasalahan politik dan ekonomi yang melanda negara ini. Saya tidak tahu siapa itu Anas, saya tidak tahu kenapa Farhat Abbas kerap kali dibicarakan masyarakat. Entah apakah ini bentuk keapatisan atau memang saya yang kurang peka terhadap permasalahan politik Indonesia. Pengetahuan umum saya terlampau rendah untuk ukuran mahasiswa semester 3, dan saya merasa jati diri saya belum dapat saya temukan sampai saat ini. Saya bahkan belum paham bakat saya, I don't know what I am good at. Ya, tidak jarang saya iri melihat orang-orang yang aktif di bidangnya, yang asyik melakukan hal yang dia suka dengan keahlian yang menonjol. Tidak jarang juga saya termotivasi untuk melakukan gerakan perubahan dalam hidup saya tatkala melihat pemandangan seperti itu, namun juga umumnya resolusi, itu semua hanya berlalu lalang dalam waktu yang singkat. Disinilah kebodohan saya dimulai.
Belum lama ini, saya melihat pict seperti ini di timeline twitter saya,
dan layaknya energi elektromagnetik, saya terkejut. Haha mungkin saya hanya merasa tersindir, karena selama ini liburan yang saya rencanakan hanya berada dalam sebuah tabung yang sering kita sebut wacana. Maklum, saya sadar diri untuk tidak menyodorkan telapak tangan ke hadapan orang tua saya untuk urusan kesenangan saya semata. Melihat juga keluarga saya yang juga bukan tumbuh dengan kegelimangan harta, saya lebih memilih untuk menabung dan mengumpulkan uang sendiri dalam hal travelling seperti ini. Maka dari itu, semua rencana perjalanan yang sering saya bicarakan bersama teman-teman berujung pada kenihilan semata. Pada dasarnya saya cuma ingin menyatakan, kalau picture itu masuk ke dalam resolusi semester IV saya, ya travelling. Begitu ajaran baru dimulai nanti, menabung bakal ada di deretan list teratas saya. Saya pribadi sih inginnya resolusi ini gak hanya bertahan 1-3 minggu, tapi namanya manusia (apalagi saya) suka ngga konsisten, jadi kita lihat saja ke depannya nanti, does this work or not.
Untuk resolusi-resolusi lainnya, saya ngga mau sebut di sini. Karena saya ngga yakin bisa merealisasikan itu semua. Bukannya pesimis, tapi saya bukan tipe orang yang muluk-muluk. Saya tahu mana yang bakal saya realisasikan, dan mana yang saya sisakan buat direalisasikan belakangan. Dan kenapa saya menyebutkan perihal travelling, karena saya yakin hal itu mampu saya lakukan, travelling dari hasil menabung. Saya juga ngga paham dari mana bisa nemuin percaya diri yang sebesar ini, haha. Tapi saya sudah memutuskan nantinya akan mencanangkan the power of 20ribu haha walau masih ragu mau 20rb atau 10rb-__- Yah, apapun itu, walaupun travellingnya batal, setidaknya menabung itu ngga ada salahnya kan.
Mungkin muncul pertanyaan, apa hubungannya travelling sama masalah renungan diri yang saya lontarkan di awal postingan. Saya hanya berpikir, bahwa saya kurang menjelajah hidup. Saya kurang bisa membuka diri, sampai akhirnya seperti ini. Belum memahami diri sendiri, belum memahami bakat saya, dan bahkan hal yang saya sukai. Entah sampai kapan saya bertahan dengan hidup dengan pola garis lurus begini. Entah sampai kapan saya akan merubah kegiatan saya bukan lagi sebagai formalitas. Entah kapan saya bisa menjadi mahasiswi layaknya mahasiswi yang bisa kritis dengan keadaan negara. Entah kapan saya bisa menjadi aktivis yang bisa merubah suatu kondisi atau minimal mengadakan acara sendiri. Entah, dan entah......Lagipula, siapa sih di muka bumi ini yang ngga ingin jadi seseorang yang bisa sukses karena dia mampu mengenal siapa dia? Everyone does, of course. Saya nggak tahu bagaimana ke depannya. Namun satu hal yang saya harap, saya ngga cuma bergantung sama takdir Allah dan cuma mengiyakan alurNya.
Friday, January 17
Dekapan Kerinduan
Entah harus memulai dari mana, dan entah harus mempersingkat cerita dengan memilih untuk menceritakan bagian mana. Berawal dari rasa aneh yang tiba-tiba muncul. Rasa aneh yang selama ini belum pernah nampak; atau emang guenya aja yang selalu mengingkari keberadaannya. It's been nine days since I got here, Jakarta, dan tebak apa berita anehnya? I just have passed two days here, sampai akhirnya gue sadar.....gue rindu kota perantauan itu, gue rindu Solo. Awalnya gue coba buat ngehalau perasaan ini, yang berkelibat di kepala gue cuma "alah, ngga mungkin!!! lagi ngga ada kerjaan aja makanya bilang begini". dan berkat sudut pandang itu, gue cuma bersikap 'bodo amat this must be joking'.
Hari itu berlalu dengan lesunya. Maksudnya, gue yang lesu menjalaninya. Kegiatan gue cuma seputar makan-tidur-mandi-nonton-internetan. Udah itu-itu aja kayak lingkaran setan. Dan hal itu makin makin membuat gue rindu....tanpa gue tau aspek apa yang sebenarnya gue rindukan. Hari keesokannya gue sambut dengan kegiatan yang agak-lebih-bervariasi dari hari sebelumnya. Gue coba cari kesibukan, gue bener-bener ngehindarin yang namanya suwung (dalam bahasa Indonesia: gak punya kerjaan). Namun....semakin gue mencoba sibuk, semakin gue paham, semakin gue ngerti kalo perasaan rindu akan Solo itu nyata. Itu semua nyata :""") Gue mencari celah buat paham apa yang ngebuat gue rindu, dan gue belum bisa menemukan apa-apa. Yap, I have no answers.
Lagi, hari demi hari gue lewatin dengan rutinitas yang ngga jauh beda sama hari-hari sebelumnya. Tapi dini hari kali ini beda. Dini hari ini mata dan pikiran gue terbuka lebar-entah seiring dengan siakad yang jam 00.00 tadi udah lampu hijau tanda terbuka lebar atau bukan-seketika itu pula gue kembali ditampar dengan fakta-fakta yang selama ini emang enggan buat gue akui. Gue ternyata rindu banyak hal. Di sela-sela pembicaraan temen2 gue 'woy ke nannys pavilon yuk', 'sushi tei yuk', 'hanamasa yuk', dan berentet nama tempat lainnya yang ribet dan engga gue kenali, gue rindu kata-kata 'eh angkringan lah yuk'. Ntah bagaimana, Solo berhasil mengajarkan gue bahwa kesederhanaan itu menghangatkan. Gue rindu makan kucingan, minum es teh, dan cuma dengan bekal seperti itu, gue dan kawan makan gue lainnya betah buat tinggal berjam-jam cuma buat sekedar bercengkrama. Gue rindu sosis naga, yang awalnya gue sangka ini tempat waw banget cause everybody talks about this, dan ternyata itu semua diluar ekspetasi. Sosis naga yang tempatnya cuma berada di pinggir jalan, duduk diatas lembaran-lembaran tiker, and yes....that's enough buat orang-orang sini merasakan yang namanya bahagia. Bukan karena apa-apa, tapi karena kehangatan yang timbul dari sekedar duduk lesehan dan ngobrol ngalur-ngidul, ketawa lepas, nyanyi-nyanyi.
Gue rindu bisa senyum dan ngebales senyuman orang yang bahkan gak gue kenal. Yak, ini hebatnya warga sana. Beli sate di tukang keliling waktu lewat depan kos aja bisa ngobrolin tentang apapun sama abangnya, bukan cuma sekedar 'bang, satenya satu, sambel kacangnya banyakin ya'. Apalagi Koko, dengan kecerewetan dan sikapnya yang gampang membaur, kerap kali dia ngobrol sama tukang (entah itu tukang jualan, tukang tambal ban, tukang fotocopy-ann, dan tukang2 lainnya) udah berasa kaya sahabat yang ngga ketemu 7 tahun, heboh hahaha. Kadang, kebiasaan gue yang suka senyum ke warga sana suka kebawa kalo gue lagi di Jakarta dan alhasil gue disangka ganjen terus digodain-_-
Seperti yang udah gue tulis berkali-kali di atas, Solo bener-bener ngajarin gue kesederhanaan, walau pada kenyataannya Solo juga udah masuk kota-kota maju. Solo sendiri punya 3 mall, yang kalo ditambah sama mall2 di Solo Baru entah jadi ada berapa. Di sini juga ada Premiere, XXI, 21, dan Blitz nyusul, yang ngga perlu nunggu sebulan sampai dua bulan dari jadwal aslinya tayang buat nonton film-film terbaru. Ya, intinya kota kecil ini udah ngerti modernisasi, enggak se-pelosok yang kalian pikir. Tapi seiring dengan itu semua, tetep kesederhanaan kota ini yang justru bikin gue kangen. Gue cinta sama suasana Solo, walau gue benci banget sama teriknya yang cukup bnget ngebikin kulit gue dekil dalam hitungan hari. Dan tentunya, gue kangen buat berada di Solo karena cuma di sini gue bisa terdeteksi dalam radarnya Koko, begitu pula sebaliknya.
Wednesday, January 1
Welcome, 2014!!!
Yoooo men, selamat hari kembang api sedunia!!! Selamat menempuh tahun yang baru ya, yang konon semua orang bakal punya resolusi-resolusi baru juga buat nyambut berlalunya tahun yang lagi dilewatin ini. Buat gue sendiri, gue cuma bisa berharap semoga tahun ini lebih baik dari sebelumnya. iya gue tau ini basi, terlalu bersikap kaya ikan mati yang cuma bisa ngikutin arus air. Tapi gue emang ngga pingin yang muluk-muluk. Apa yang bisa dilakuin di tahun 2014 ini, ya gue lakuin. Syukur-syukur banyak hal baru yang bisa gue coba, biar gue gak jenuh. Syukur-syukur juga bakal banyak sosok baru yng bisa ngasih pelajaran hidup biar gue juga bisa belajar lebih banyak. Dan masih banyak syukur-syukur lainnya yang gue harapkan dateng di tahun yang baru ini haha.
Singkat cerita, goodluck dengan tahun barunya ya. Semoga semua resolusi-resolusi yang udah kalian buat bisa tercapai, at least setengah dari total yang kalian harapkan. Amin aalhuma amin.
Singkat cerita, goodluck dengan tahun barunya ya. Semoga semua resolusi-resolusi yang udah kalian buat bisa tercapai, at least setengah dari total yang kalian harapkan. Amin aalhuma amin.
Thursday, October 31
Friso Gold dalam Nyanyiannya
Malam ini, gue dihadapkan sama satu iklan. Iklannya bukan iklan yang baru 2 hari lalu atau seminggu yang lalu dipublish. Gue sadar dan tau juga kalo iklan itu udah lama. Gue jatuh cinta sama soundtrack iklan itu juga udah lama. Tapi, gue lupa dan malam ini gue dihadapkan lagi sama iklan itu. Gue kembali teringat dan coba nge-search di google. Sebenernya, bukan gue sih yang nge-search, tapi temen gue haha ngga ngerti kenapa dia lagi baik. Gue minta download-in, eh beneran dia download-in. Tapi pas nyari lirik, gue ngesearch sendiri. Pas temen gue udah tau judulnya dan laporan ke gue, gue makin jatuh cinta. Pas udah ke-download dan denger lagu fullnya, gue masih jatuh cinta. Eh pas ngesearch liriknya.........fix banget gue jatuh cinta. Oke daripada gue berbasa-basi dan bermelankolis lebih lama, langsung aja gue tulis liriknya yah.
Incredible Journey
We've only just met
But I feel sure
We will be bestfriend
Sharing the joy
Of every step
We take together
This journey that we're on
Where both of us grow strong
This journey that
We'll make it together
Love the wonder in your eyes
The thrill of each
And every first time
The whole world is new
Baby hear it call
For me and you
This journey that we're on
Where both of us grow strong
This journey that
We'll make it together
Stumbles and falls
They may come
But I know that
They'll make you stronger
Through the rain and the shine
We learn about life
And grow together
This journey that we're on
Where both of us grow strong
This journey that
We'll make it together
Look how close we've got
Look how far we've come
And yet, we've only just begun
This journey that we're on
Where both of us grow strong
This journey that
We'll make it together
This journey of a lifetime
Oh baby you and I
This journey that we're sharing together
We share our love
We share our joy
Ngga tau kenapa, gue langsung jleb liat kata-katanya. Agak curhat dikit sih, liriknya ngepas banget buat kita. Haha. Iya, kita. Kamu dan aku. Kamu yang bikin satu perjalanan sebagai awalan kita. Kamu yang kemudian ngadain perjalanan-perjalanan lain. Kamu yang nyadarin aku kalo perjalanan-perjalanan itu tadi ngebuat aku punya rumah, selain rumah aku yang disebrang sana tentunya. Kamu yang ngebuat aku ngerasa udah cukup kaya dengan memiliki dua rumah. Kamu yang ngebuat genre musik aku bukan lagi cuma disekitar musik ber-sub slow (contoh: slow-pop, slow-rock) dan acoustic. Dan kamu yang sekarang ngebuat doa aku bervariasi.
Dan akhirnya, ucapan makasih nggak akan luput dari ter-publishnya postingan ini. Makasih buat Allah buat segala kesempatan yang diberikan sampe akhirnya lagu ini tiba ke kehidupan gue. Buat siapapun penciptanya, buat sumber-sumber yang udah ngebantu nemuin ini lagu beserta liriknya, buat Friso Gold yang udah memperkenalkan, buat kamu yang udah menuh-menuhin pikiran aku, dan terakhir, buat kamu yang udah senantiasa ngasih ide-ide secara ngga langsung.
Tuesday, October 22
Nonsense.
Oke, ini udah bulan ke-sepuluh di tahun 2013 tapi jumlah postingan yang terpampang ngga sebanding sama jumlah hari-hari yang udah gue lalui di tahun ini. Ngga ngerti kenapa, mungkin karena gue fakir koneksi di tanah perantauan ini, atau emang jadi mahasiswi udah gak bisa sebebas dulu yang kerjaannya cuma berkisar di main-tidur-tugas copas dari google-balik lagi ke tidur nyenyak. Haha ngga ding, gue lebay. Mahasiswi gak sesulit itu, cuma ya emang lebih sulit, apalagi buat kaum-kaum yang rela-rela jauh sama semua sanak famili demi masa depan yang diharapkan lebih cerah ini.
Enak sih kuliah, tapi biasanya itu pendapat mahasiswa-mahasiswa semester awal karena belum ngerasainn yang namanya praktek, praktek, dan jengjengjeng.......skripsi. Baru semester 3 aja gue udah agak sedikit keteteran. 1 hal, gue itu deadliner abiiiiieeeeesssss. Tugas selalu, oke gue ulang, se-la-lu, gue kerjain dimalem sebelum deadline. Nggak ngerti kenapa, tapi gue gak pernah kapok walau gue sering banget bela-belain ngga tidur demi nyelesaiin tugas begini. Di sisi lain, gue pengeeeeen banget aktif organisasi. Yah as you know, kuuliah ngga cuma belajar secara akademik aja, you need the other things, dan berorganisasi salah satunya. Awal-awal, gue semangat, ikut screening sana-sini, mencoba sebisa mungkin biar gue diterima di UKM itu. Tapi layaknya yang lalu-lalu, I let it pass by. Yap, I did this in my senior high, keluar-masuk ekskul tapi ngga pernah berbuah apa-apa, hanya kenihilan, kegabutan. Well, kali ini gue lebay lagi. Sebenernya gue cuma ikut 2 UKM, 1 di FISIP, 1 di kampus, tapi ya you know.....it ends just like this. Ternyata gue sadar, kemauan yang sangat teramat besar itu ngga ada gunanya tanpa adanya usaha merealisasikan dari guenya. Uhm wait, usaha ada, tapi banyak faktor di sekeliling kita yang ngebuat usaha-usaha yang kita coba lakukan perlahan jadi ngga keliatan. Contohnya, ketika temen-temen gue ternyata memutuskan buat ngga berada dalam satu organisasi sama gue. Oke, organisasi emang bukan sarana seperti itu, this goes to our passion, but it just....hard. Yah sulit, sulit dalam konteks karena merasa ngga ada sosok yang udah kita kenal dari awal. Iyeee gue tau, makanya ini gunanya organisasi, buat pinter bersosialisasi tapi tetep aja kalo ada temen kan pasti ada semangat sendiri buat dateng. Bener kan gue? Sebenernya sih, UKM Univ yang gue ikutin ini (sebut aja L) anaknya asik-asik, gue juga udah kenal sama mereka-mereka, but I don't know how-mungkin seperti yang gue bilang sebelumnya bahwa ngga ada sosok yang udah gue kenal dari awal-gue jadi ngga begitu rajin dateng, hingga pada akhirnya gue ngga pernah dateng. And guess what, yap gue menyesal. Kadang terbesit di pikiran gue, "Masih adakah alasan gue untuk kembali?"
Di tahun ajaran baru kemaren, gue sempet ngajak temen-temen gue buat ikut UKM barengan, tapi pada males. Ngga ngerti juga, kok bisa-bisanya ya mereka betah hidup cuma kampus-kosan-hedon. Sedangkan gue sering banget nyari tempat naungan yang bisa buat nampung gue main saat kuliah udah kelar, dan sering juga nyari tempat inepan yang bisa buat direcokin, karena asli jujur gue ngga terlalu betah ada di kosan lama-lama-__-
Anyway, idul adha kemaren gue balik ke Heaven gue, rumah. Rasanya bahagia banget, bisa ketemu keluarga, ketemu temen-temen, ketemu kehidupan asli gue lah pokoknya. Bahagia karena untuk sementara, gue bisa lepas dari serangkaian kehidupan yang harus gue prioritaskan demi mencapai finish line. Haha tenang tenang, I'm not as messy as a year ago kooook. Gue udah nemuin peran-peran yang bisa dijadiin home gue di sini. Tapi tetep aja nggak bisa dielakkan,
"to be far away from home is not easy"-Cars.
Masalah hidup tetep ada, itu harga mati haha, Apalagi buat figur-figur anak kosan kaya gue, buat orang-orang LDR yang mencoba sekuat tenaga buat bertahan, buat sosok-sosok yang dipaksa move on daripada kalo ditahan sakit hati, buat mahasiswa tingkat atas yang bab I skripsinya ngga diacc-acc sama dosen padahal bulan depan mau nikah, dan untuk seluruh figur mama dan papa yang harus berjuang demi anak-anak tercintanya. Tenang aja, kalian ngga sendiri. Hidup emang ngga adil, tapi Allah itu adil. Feedback dari segala macam usaha kalian pasti ada. Layaknya sepotong lirik yang pasti udah sering kalian denger sebelumnya,
"and in the end, the love you take is equal to the love you make"
Fine, agak ngga nyambung sih tapi tetep semangat!!! (....)9 lovelovelovemwaaah XOXO :*
Pertanda, RAP, 1 tahun lebih menjalin hubungan sama KA, wkwk :3
Tuesday, May 14
8th
11 Mei kemarin, yang ke delapan akhirnya tiba. memang sih pasti ada cibiran 'ah baru yang kedelapan aja norak' haha tapi ya ngga apa-apa, like what I said siapa tau blog ini bisa jadi pengingat hari tua :p uhm mungkin ada yg bertanya2, 'sebenernya, yang kedelapan dalam rangka apaan sih?'
Keeeey jadi gini, have you ever read my previous post? Ada satu kata yang bisa mewakili jawaban pertanyaan ini. yah, dia. so, udah ketebak kan?
Yah, dia yang dengan tiba-tibanya bisa datang ke hadapan gue, menjabat tangan gue, senyum sambil mengucap kata 'Koko', dan gue juga ngebalesnya dengan sekilas 'Ratna'. Dia yang ntah bagaimana dengan anehnya tiba-tiba memutuskan untuk nemenin gue ke Jombang nyamperin Della. Dia yang dengan bodohnya bisa nembak gue padahal belum move on, dan dia yang dengan hebatnya bisa mengambil alih perasaan gue yang dulunya cuma bisa terdiam memaku sama satu sosok. Ya, dia.
Ntah kenapa, satu semester jadi berasa cepet, bahkan gue pun bingung kenapa tau-tau udah liburan. Padahal kalianpun tau betapa homesicknya gue, betapa terjebaknya gue dalam memori-memori lama. Pertama kali ketemu, I've no idea that this would be more than friend, gak disangka kalo peran dia bakal sebegini berpengaruhnya dalam hidup gue. Sempet dalam beberapa kesempatan, dengan bodohnya gue membiarkan diri gue tau sesuatu yang bisa membuyarkan, dan lebih bodohnya lagi gue membiarkan yang tadi udah gue biarkan lewat gitu aja. Tapi mungkin gua bakal jadi sosok yang terlampau bodoh kalo membiarkan ego gue memonopoli semua pikiran dan perasaan yang sebenarnya juga ingin mengeluarkan suaranya.
Ada sepotong lirik lagu 'youre a part time lover and a full time friend' dan ntah kenapa setiap denger lagu ini selalu inget dia. Happy repeat month anyway, doanya gak disini ya, dikirim langsung aja buat Allah :")
Ada sepotong lirik lagu 'youre a part time lover and a full time friend' dan ntah kenapa setiap denger lagu ini selalu inget dia. Happy repeat month anyway, doanya gak disini ya, dikirim langsung aja buat Allah :")
Sunday, March 24
Over&Over&Over Again
Lagi dan lagi bayangan bayangan itu selalu menyeruak. Entah
itu di sela kekosongan, di sela kesibukan, bahkan di sela gelak tawa bahagia.
Yah, sulit memang kalau semua yang kita hadapi itu ngga dilandaskan sama
perasaan ikhlas, pasti ngga akan pernah bisa berjalan mulus. Believe me or not,
gue selalu mencoba kok. Selalu, selalu, dan selalu mencoba untuk bisa ikhlas
berada di sini, untuk bisa ikhlas ngejalanin tahun-tahun yang jauh dari kerabat
deket, untuk bisa bertahan dan sukses pada akhirnya *allahuma amin. Di setiap
doa, gue selalu menyelipkan harapan ini, dan gue pun minta orang lain juga buat
bantu menyelipkan harapan ini di sela doanya.
Dulu yang ada di bayangan gue enggak seburuk dan se-messed up ini, tapi
nyatanya fakta berkata lain. Be positive aja kalau Allah punya caraNya
tersendiri buat bikin gua bahagia, hehe.
Hari demi hari emang bisa gue lewatin, sampe akhirnya
semester 1 pun berakhir. Gue ngga
nyangka 6 bulan ngga terlalu berasa lama, entah kenapa. Mungkin karena gua
punya ‘dia’, satu sosok yang gak pernah gua sangka keberadaannya. Tapi
sayangnya, gue belom punya ‘mereka’ yang bisa mengisi kekosongan gua. Namun
tetap kembali ke awal, kekosongan hati itu akan selalu ada dan gak akan pernah
terisi, kekosongan hati yang kadang tertutupi oleh bagian hati yang udah keisi,
got it kan? J
Pernah terbesit di pikiran gue buat ikut SNMPTN tulis lagi,
atau ngga ikut test-test PTK gitu. Udah sempet nanyain hal ini juga ke mama,
sempet dibolehin sih, tapi setelah dipikir ulang, sayang. Kalo kata Venny, “Gak
selamanya keterpurukan batin menimpa seseorang kok. Suatu hari ketika batu
pijakannya semakin kuat, maka langkah semakin ringan”. Idk how, just like magic, I’m forced to be
poetic when we’re having conversation on this thing. And hell yeah, she’s right.
I should not cave in.
It’s just like......gue berlari dalam satu lingkaran penuh,
yang punya garis start dan finish yang sama. Seberapa kerasnya gue nyoba lari,
selalu kembali ke tempat awal. Harusnya, gue gak perlu jadi pemenang. Harusnya
gue jalan, bukan lari, supaya gak kebablasan & bisa berhenti tepat sebelum
garis finish. Emang sih yang namanya lari itu lebih cepet, tapi kalo kebablasan
gimana? Kalo kata orang Jawa, “alon-alon asal klakon”. Just remember, time
heals.
1 hal yang menguatkan gue, “tapi rasa sakit ini yang selalu
ngingetin, kalo mereka nyata dan nunggu kita pulang.”
Monday, July 9
Alhamdulillah
Pengumuman SNMPTN dimajuin 1 hari, dan sekarang udah H+3 pengumuman.
Gimana hasilnya Rat?
Alhamdulillah lolos.
Lolos dimana brew?
Alhamdulillah pokoknya di pilihan pertama :)
Gimana tuh perasaannya? Kepo dikit dong
Seneng, sedih, apapun itu, yang jelas gue udah lega. Seenggaknya gue gak gagal dan gak ngecewain orangtua. Seengganya pengorbanan gue waktu itu ke Jogja gak percuma.
Kok dapet kabar bahagia gitu sedih sih?
Lu pada taukan rasanya seneng di atas kesedihan orang lain? Apa bisa lu seneng? Jawab sendiri, soalnya jawabannya relatif eakakak. Sedih gue liat temen2 gue pada masih harus coba lagi. Agak gimana gitu ngeliat temen2 lu harus pada berjuang lagi, sementara elu udah bisa lega sama apa yang didapet.
Untuk temen-temen gue yang belom lolos, tetep semangat ya \:D/ karena sesungguhnya ngeliat kalian hopeless itu sedikit agak menyayat hati *eaaaak. Mungkin Allah masih mau liat usaha kalian ngejar sesuatu yang bener2 kalian pengenin itu. Allah mau kalian nantinya makin memaknai sesuatu yang tadi, karena ngedapetinnya aja bukan dengan cara yang mudah.
Di sana sama siapa aja?
Nah ini juga yang bikin galau......gue sendiri. I mean, seengganya dari IPS yang masuk situ baru gue. InsyaAllah Venny nyusul, Hanan juga, yang lainnya juga, allahuma amin. Pada ambil swadana ya, biar nemenin gue ;;)
Terus verifikasi kapan? Ke sana ntar sama siapa?
Online tgl 9-13, on desk 16-17. Belum tau, tapi kemungkinan besar sendiri hahaah gue terlalu mandiri emang bro
Ada sesuatu yang mau disampein? Question list udah habis nih
Yoooops, gue tetep ikut simak. Doain aja lolos. Biar mak gue galau waakakak. Gak deng, biar gue gak merantau. Semakin ke sini jadi gamau jauh2 dari orang rumah, takut homesick-__-
Tapi nyokap pernah bilang, swasta gapapa asal di Jakarta.
Jadi inti dari semua inti adalah.......semua masih abu-abu, masih blur. Apapun keputusannya semoga itu yang terbaik aminnn
Wednesday, July 4
Highschool :p
Jadi gini....temen-temen pasti tau kan segala sesuatu udah punya jangka waktunya masing-masing? Kalo segala sesuatu pasti ditempatkan di tempat yang terbaik dan suatu saat bisa dipindahkan karena keadaan cenderung berubah tiap waktu, dan yang tadinya terbaik itu bisa jadi cuma sekedar baik, bahkan menjadi buruk? Dan otomatis semua harus berevolusi lagi supaya selalu kembali di tempat yang terbaik. Yah, waktu berputar. Nothing lasts forever.
Dari seulas kata2 ribet dan gak jelas yang gue tulis di atas, semua juga pasti tau ya mau kemana arah pembicaraan gue? Yah jadi hal-hal ini nih yang lagi menyelinap di balik seulas senyuman gue *eaaaa. Hal ini yang lagi menyeruak di balik pikiran ramai gue. Hari ini H-4 pengumuman tertulis, H-5 SIMAK. Beberapa bulan lagi menuju lembaran dan tahun ajaran baru. Berakhir udah kesempatan buat ngukir memori2 tolol sama mereka-mereka. Bahkan sekarang gue bukan lagi siswi putih-abu2. Like seriously, butuh waktu yang lama buat gue menyadarkan 1 hal itu hahaha.
Mau sedikit berbagi aja, lepas dari status putih abu-abu itu gak mudah, justru ini fase tersulit diantara fase2 pendidikan yang lain. Gak kuku men sama misahnya ckck. Selama ini kan kalo misah sama temen-temen masih dalam 1 kota, sedangkan kali ini? Masih dalam 1 galaksi.
Jujur, SMA itu beda. Kalo ditanya beda dalam konteks apa, ya semuanya. Mulai dari pelajaran, pergaulan, sikap, ah, banyak. Bagi gue pribadi, highschool changes me into someone I thought I'd never be. Banyak banget pelajaran yang gue dapet di balutan putih abu-abu ini. Dari yang tadinya labil - sangat labil - jadi lebih bisa ngontrol emosi. Dari yang tadinya hobby galau, berubah jadi sedikit bisa mikir pake logika, gak cuma hati. Dari yang tadinya solat masih sangat bolong-bolong, sekarang udah ngerti sama agama, walau belum make hijab. Dari yang tadinya sering mikir negatif, sekarang udah bisa ngerti kalo itu cuma karena luapan emosi.
So.....kenapa tiba2 gue jadi mikirin ginian? Malem ini, waktu gue otw pulang dari rumah Ndus, gue dihadapkan sama lagu-lagu yang mengingatkan gue akan beginian. Hal yang emang selama ini udah jd beban pikiran tapi dihalau keberadaannya. Ntah karena kebetulan atau sengaja, lagu2 yang ke shuffle tuh emang bertemakan 'anu' semua. Salah satu liriknya ada yang gini:
And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
Nah coba mikir deh mikir, makhluk bagian mana yg gak galau dijejelin lirik gituan hah?
Cause we're moving on and we can't slow down
There memories are like playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
Kelanjutan liriknya malah bikin gue jadi flashback sejak awal terjebak di 62; X2, XI IS 2, trs XII IS 2 :)
Gimana gue dan temen2 X2 ngocol nonton film lewat proyektor dan hadiah menangin classmeet waktu itu jadi snacknya. Gimana kita liburan ke villa Hanan waktu kenaikan kelas dan ngalamin hal2 mistis :p Gimana gue masuk IS 2, dan tau2 udah classmeet, kenaikan kelas, sekelas lagi, classmeet terakhir, Ujian Nasional, Dufan.
As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change
Come whatever
We will still be friends forever
Hufft seandainya aja kalimat terakhir di sebagian lirik di atas itu bisa jadi kenyataan. Seandainya aja forever itu emang bener ada......
So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
still be trying to break every single rule
Yes, we will.
Seandainya itu jawaban dari lirik lagu tadi, mungkin gue gak akan sekalut ini. Jujur gue takut, gue takut ini semua cuma sebelah tangan. takut kalo ini semua cuma bakal jadi komunikasi 1 arah.
And sometimes I wonder....
will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it's not goodbye
keep on thinking it's a time to fly
Yah tapi intinya, mau gak mau, suka gak suka, perpisahan itu pasti terjadi. Siap gak siap, gue bakal ngalamin kehilangan (lagi). Tapi seperti yang pernah gue denger "pertemuan memang tidak ada yang abadi. Namun layaknya pertemuan, perpisahan pun tak ada yang abadi"
Agak menye sih, tapi gue percaya kok perpisahan kita ini emang gakan abadi. Akan ada saatnya dimana ketika semua udah indah pada waktunya, kita bakal dipertemukan lagi. Sekarang yang gue pengen denger dari kalian cuma kabar bahagia tanggal 7 nanti. Kebahagiaan kalian, kebahagiaan gue juga. Kita bisa sukses bareng2 kok :D Makasih yah buat kalian2 semua yg udah buat masa2 SMA gue irreplaceable dan unforgettable :p
Akhir kata,
Gue bukan orang yang pinter mendeskripsikan sesuatu. Gue bukan words maker yang bisa bikin orang menilai sesuatu yang gue jelaskan itu menjadi waw. Tapi gue cukup pinter buat menyadari kalo masa-masa putih abu2 ini masa2 yang tak terdefinisi.
Siapapun kalian, entah itu belom mengalami masa SMA, atau akan, atau sedang....make your times worth! Masa-masa SMA itu bukan saatnya utk buang2 waktu. People was right. Senior high school's the greatest one. Kalo katanya @poconggg di blognya, "your college friends know who you are, but your highschool friends know why" waw!
Subscribe to:
Posts (Atom)





