Wednesday, August 15

as we grow old?


source: https://weheartit.com/entry/306194704

wah, lagi-lagi saya gagal. gagal untuk berkomitmen dengan diri sendiri untuk tetap mengisi laman ini, karena untuk hal yang satu itu bukan hanya melibatkan keinginan, melainkan juga suasana hati.
semakin ke sini, saya merasa semakin sulit untuk menulis. semua orang tahu bahwa untuk mampu menulispun kita harus sering membaca dan melakukan pengamatan terhadap banyak hal, sedangkan saya akui, semenjak saya bekerja waktu saya untuk membaca pun kian berkurang.

bukan, saya bukan wanita karir yang bekerja sekeras itu untuk menyikapi masa depan hahaha Alhamdulillah justru pekerjaan saya kali ini masih mengizinkan saya untuk sekedar bercengkrama dan memiliki obrolan-obrolan konyol bersama kerabat-kerabat dekat saya.
sungguh, untuk yang satu ini saya sangat bersyukur karena bagi saya waktu bersama orang-orang terdekat tidak bisa dibeli dengan apapun itu :)

delapan bulan saya tidak menulis satupun. saya melewatkan perjuangan-perjuangan yang mungkin belum seberapa dibandingkan perjuangan para tokoh-tokoh di luar sana, tapi tetap saja, kembali lagi bahwa diri kita sendirilah pemeran utama dalam cerita kehidupan kita masing-masing.

banyak yang terjadi dalam delapan bulan ini, dan semuanya mengajarkan saya untuk lebih bisa bersikap dewasa dan berbesar hati dalam segala hal. kebahagiaan, kesedihan, semuanya berseteru dan memberikan saya hikmah untuk tetap bisa menghadapi benturan-benturan yang terjadi.
bukannya saya menyanjung diri, namun memang itulah yang terjadi.

saya tidak mengklaim diri saya sudah lebih baik dari sebelumnya, saya hanya lebih memahami proses kehidupan yang memang permasalahan hidup ketika saya menduduki SMA dan kuliah tidak sebanding dengan apa yg terjadi setelahnya, and for God's sake untuk kalian yang masih kuliah nikmatilah masa-masa kalian sekarang really I swearrrr because the next is harder.

kalian akan melewati fase krisis identitas di mana fase-fase ini emang mungkin ga akan dialami oleh semua orang, tapi saya rasa mayoritas akan seperti itu sih, kecuali mereka yang bener-bener tau siapa dirinya, apa passionnya, apa keinginan dan mimpinya, serta tau planning untuk kehidupannya sedniri ke depan wakakaka.
saya juga pernah berada dalam keadaan ditinggalkan sendiri justru ketika saya sedang terseok-seok memahami arti kehidupan. tidak, saya tidak menyalahkan siapapun. saya paham bahwa kerabat-kerabat saya juga memiliki problematikanya masing-masing dan saya sadar bahwa masing-masing dari kita memang butuh ruang untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, dan benar. in some cases, sendiri itu justru membangkitkan kita dari keterpurukan.

the point is, di usia-usia seperti ini mayoritas masalah kalian itu blm bisa memahami diri sendiri, dan proses pemahaman itu ga gampang. asli. wakakak. I am not saying bahwa masalah ini nantinya akan dihadapi semua orang loh, tapi rata-rata ini yang dirasakan orang sekeliling saya, dan pernah juga ada thread di twitter mengenai quarter life crisis (klik di sini), dan dari jumlah engagementnya ya memang banyak, seakan menyetujui apa yang ditulis dalam thread tersebut.


yah memang sih, belum semua pahit manisnya kehidupan bisa dirasakan di rentang usia saya ini. tapi setidaknya, semakin waktu berlalu, semakin saya melihat bahwa memang permasalahan setiap orang itu berbeda-beda, dan kalian gak bisa begitu saja mengklaim permasalahan siapa yang lebih berat because everything is equal and time won't go wrong.
Read More

Friday, December 8

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film berjudul "A Ghost Story" yang kalau dilihat dari judulnya meyakinkan banget kalau film yang satu ini adalah film horror. Wait guys, sebelumnya, ini dia penampakan dari poster filmnya;

Sumber: www.imdb.com


Sebelumnya, berikut ini detail film yang saya lansir dari imdb,

Duration: 1hr 32mins
Genre: Drama, Fantasy, Romance
Release date: 27 July 2017 (Australia)
Rate: 6,9/10



As you can see, di bagian teratas ada kesan dan pesan yang dirangkum dalam kata "Lovely, Misterious, and Cosmic". Hal pertama yang menimbulkan tanda tanya "Is this really horror film?", ditambah di bagian bawah ada copy "It's All About Time" yang semakin mendukung pertanyaan sebelumnya. Akhirnya saya memutuskan untuk cari dulu sinopsisnya, dan benar, ini bukan film horror seperti yang kalian kira.

Sebelumnya saya mohon maaf karena saya tidak akan menuliskan sebelumnya sinopsis di sini. Saya yakin sudah banyak sekali artikel artikel di luar sana yang menuliskan sinopsis dari film ini. Jadi ini hanyalah pure opini saya sebagai penonton yang masih awam dalam menilai sesuatu.

Film ini menceritakan seorang hantu dari sudut pandang yang berbeda, jika di mayoritas film kamu disodorkan hantu dengan sudut pandang manusia, di film ini kamu akan disuguhkan sebuah perjalanan dari sudut pandang si hantu itu sendiri. 
Oh ya, film ini tidak disarankan untuk para penonton yang tidak menyukai alur lambat. Namun jika ingin tetap mencobanya, silahkan, siapa tau dengan menonton film ini mampu mengubah penilaianmu mengenai film-film beralur lambat yang menurut saya most of them is a cool movie.

Dalam film ini ada adegan di mana M (istri si hantu) memakan pie dan menghabiskan durasi mungkin lebih dari lima menit sendiri, waw. Di sini, sutradara ingin menyampaikan emosi yang dirasakan oleh si M, yang tak lain adalah rasa kehilangan, dan menurut saya emosi itu berhasil dipertontonkan, bahkan disalurkan kepada audiens, saya sendiri pun ikut bersimpati atas kehilangan M akan suaminya tersebut.

Waktu kian berjalan, sang suami masih berada di rumahnya (dalam bentuk hantu), menyaksikan segala kegiatan yang dilakukan istrinya. Bahkan ketika sang istri memilih untuk meninggalkan rumah tersebut, sang suami yang bernama C itu tetap tinggal, menunggu kian lama, dengan setia, entah dengan ketidaktahuannya bahwa sang istri memilih pergi dan tidak kembali, atau dengan harapannya bahwa M akan kembali lagi. Perlu diketahui, sebagai bentuk peninggalannya, M menyelipkan sebuah catatan kecil yang ia masukkan ke dalam rongga di tembok rumahnya, namun tak bisa ia baca karena suatu sebab.

Penghuni baru kian berdatangan, namun semua tidak bertahan lama karena C mengganggu mereka. Di sini juga terdapat adegan dimana salah satu penghuni baru membicarakan arti  kehidupan, berawal dari pembicaraan mengenai Symphony 9 - Beethoven dan berujung pada perumpamaannya dalam kehidupan, yang menurut saya pribadi menarik untuk disimak. Yap, seperti film horror yang menceritakan rumah berhantu, kali ini diambil dari sudut pandang sang hantu.

Bagian endingnya ini sih yang menurut saya bener-bener waw, dikemas secara dalam dan emosional. Kronologinya begini; C seakan berjalan namun sesungguhnya dia hanya mengitari tempat yang sama dalam kurun waktu yang teramat panjang. Masa demi masa, bahkan zaman demi zaman ia lalui, untuk menunggu sang istri kembali. Hingga akhirnya ia datang kembali ke masa di mana ia dan istrinya bahagia untuk kedua kalinya (saya anggap ini reinkarnasi sempurna). Terjadi kembali kejadian yang sama dan saat ini terdapat dua sosok C sebagai hantu.
Namun kali ini, kejadiannya sedikit berbeda. Sepeninggalan M terhadap rumah itu dan kenangannya, C berhasil meraih catatan kecil M dan membacanya. Tanpa memperlihatkan isi catatannya, seketika C menghilang dan saya menyimpulkan kalau ia sudah tenang di alamnya. Membingungkan? Memang. Tapi justru itulah seninya wkwk. Pokoknya kalo pendapat saya pribadi sih rate nya 7,5/10.

Read More

Saturday, October 28

Kapan Sih Takdir Dituliskan?

Ntah kenapa berbulan-bulan ini ada yang mengganjal di hati saya. Gila yaa bisa berbulan-bulan ckck hebat juga saya, sekaligus bodoh lantaran belum juga bisa memecahkan permasalahan ini. Nah, masalahnya, gimana saya bisa memecahkan masalah yang saya gak tau apa masalahnya huhu pathetic maksimum :(((


Tapi kemungkinan besar karena saya terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah :" job seeker lyfe, ditambah masalah hidup lainnya and then boom here I am. 

Saya bertanya-tanya, naifkah seseorang yang tidak berusaha maksimal dalam rezeki dan jodohnya serta menjalani hidup dengan tidak terlalu bersikeras menerapkan pola hidup sehat karena percaya semua hal tersebut sudah diatur oleh Sang Penguasa? 
Dan sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan jawaban yang bisa saya terima.

Mungkin mayoritas orang akan menyanggah pertanyaan saya karena mereka meyakini semua hal tetap memerlukan usaha. Saya tidak menganggap pernyataan itu salah maupun benar. Saya hanya kurang puas dengan jawaban itu. Dalam agama saya, rezeki, jodoh, dan umur sudah dituliskan bahkan sebelum seseorang tersebut terlahir, dan jika kasusnya ada seseorang yang tidak berusaha, maka apakah takdir sosok tersebut akan berganti? Karena saya rasa Tuhan tidak mungkin menakdirkan ciptaanNya untuk tidak berusaha. Satu-satnya kemungkinan adalah kesengajaan dari manusianya sendiri.

Ada juga yang mengatakan bahwa takdir tersebut memiliki banyak jalan yang berujung juga pada banyak kemungkinan, dan tentunya seseorang tersebut akan berujung pada takdir yg secara tidak langsung dipilihnya. 
Namun, sebagai seseorang yang percaya pada sebab-akibat, muncul lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Saya percaya pilihan seseorang akan berdampak pada nasib orang lain, dan jika digabungkan dengan statement 'banyak jalan' yang tadi saya sebut, bukankah itu berarti akan terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang direncanakan? Begitu pelik kah? Atau bisa saja hal itu berarti bahwa takdir seseorang belum sepenuhnya tertulis dan baru akan tertulis ketika semua hal nya baru mau terjadi? 

Saya bukan mengingkari bahwa Tuhan itu Sang Perencana. Saya percaya, sangat percaya bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya dengan sedetail mungkin, namun bagaimana sistematikanya yg belum saya pahami. Atau mungkin, umat Nya tidak perlu tahu? Mungkin lebih baik semua menjadi rahasia Nya. Mungkin.
Henn Kim - Don’t think too much
Sumber: www.pinterest.com
Read More

Saturday, October 14

Kapan Nikah?

Hasil gambar untuk marry me tumblr
Sumber: on pict

Jadi di hari Sabtu ini saya dan salah satu kerabat saya, Gita, harus menempuh perjalanan dari Cibinong menuju Jakarta karena seperti biasa, tanpa direncanakan, kami menginap di rumah kawan kami Dinda yang kebetulan baru saja pindah dengan embel-embel mengantarkan ia ke singgasana barunya itu. Singkat cerita, embel-embel mengantarkan yang tadi disebut itu luruh begitu saja dan akhirnya kami menginap di sana karena kami punya bakat terpendam untuk merepotkan orang wkwkwk gak deng gak gitu juga.

Siang itu kami menggunakan jasa Commuterline untuk kembali ke Jakarta, dan seperti biasanya, saya mulai mengamati orang-orang di sekitar dan mencoba menerka juga mengomentari dalam hati apapun yang saya lihat kala itu. 
Ada dua laki-laki anak kuliahan yang mencoba menghabiskan waktu dengan mengobrol namun terlihat sedikit kesenjangan di sana yang saya asumsikan bahwa mereka bukanlah sahabat dekat. 
Ada juga segerombolan anak muda mungkin masih berada di jenjang SMA berkumpul di depan pintu kereta, dan ketika ada kursi yang tersedia, 2 perempuan di komplotannya segera melangkahkan kakinya ke tengah deretan kursi, dan ketika kereta mulai sesak, mereka masih saja duduk dengan manis tak menghiraukan orang-orang yang lebih diprioritaskan untuk duduk. 
Ada juga lelaki paruh baya dengan style yang santai dan tattoo kecil di kaki, sibuk sendiri dengan gadget yang dimilikinya namun dibalik itu semua ia masih memiliki rasa tanggap sosial yang tinggi.

Dari sekian banyaknya orang yang saya perhatikan, ada satu keluarga yang menjadi sorotan utama saya. Ibu dan dua anaknya yang masing-masing laki laki (kira-kira 7thn) dan perempuan (kira-kira 6thn) yang duduk di kursi pojokan khusus untuk prioritas. Diperlukan dua orang berdiri agar sang ibu dan kedua anaknya itu bisa duduk. Sejurus setelah sang ibu duduk, ia membuka tas, mengambil hp, dan sibuk dengan benda kotak di tangannya itu. Sedangkan kedua anaknya? Rusuh mengambil posisi duduk yang bisa menguntungkan kedua pihak.
Posisi itu bertahan mungkin sekitar 3-4 menit hingga kemudian sang ibu memarahi mereka dengan suara yang cukup keras dan bisa saya dengar dengan jelas (posisi saya di pintu sebrang kursinya).

Beberapa saat kemudian, saat saya mencoba memperhatikan orang lain, tiba-tiba keluarga tersebut kembali mengejutkan saya. Sang ibu kembali memarahi anaknya, kali ini yang laki-laki, dengan sebutan 'kurang ajar'. Wow. Saya takjub, dan langsung tepuk tangan. Ya nggak lah. Cuma takjub aja.

Kalo urusan marahin anak di tempat umum ya mungkin udah sering ditemui, tapi kalo ngatain kurang ajar ke anaknya sendiri yang saya perkirakan usianya baru 7 tahun itu.....antara jahat atau gak beretika sih :")
Emang, anaknya banyak tingkah banget dari yang saya lihat, tapi saya rasa bukan begitu cara mendidik anak yang benar, mengingat anaknya masih kecil dan tau sendiri itu adalah masa-masa kepribadian seseorang mulai ditata. Emang sih, saya belum berpengalaman dari mengurusi anak dan rumah tangga, tapi saya gak akan panggil anak saya kurang ajar di rentan usia segitu, kalo udah gede ya gak tau WAKAKAK.

Gak salah memang kalo pelajaran hidup bisa didapat dari mana saja. Melihat hal ini, saya semakin segan untuk cepat-cepat menikah. As you know, di usia saya ini adalah usia-usia di mana rekan-rekan saya satu persatu mulai memutuskan untuk menjajaki fase itu. Dan saya ga malu untuk mengakui bahwa awalnya saya iri. Bukan, bukan iri, tapi lebih ke perasaan 'ih pengen juga deh nikah' dengan membayangkan hidup berdua sama pasangan 24/7, siapa yang gak tergiur? wkwk. Tapi untungnya itu cuma euphoria sementara aja, and thx to you karena permasalahan kita ngebuat saya enek ketika ngebayangin nikah sama you haha curhat-_-

Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menikah. Jangan cuma karena melihat kerabat yang satu persatu kian pergi atau bahkan mendengar cibiran orang-orang. Nikah itu diri sendiri yang jalanin, jadi jangan menikah hanya dengan modal ingin
Kehidupan setelah menikah itu akan berbeda, banyak aspek yang kamu pikirin. 
Apalagi jika kamu sudah dikaruniai buah hati, bakal lebih banyak lagi yang perlu kamu pelajarin.
Ya, intinya sih sebenernya menikahlah ketika kamu sudah siap. Dan tahapan untuk menuju siap itu sendiri menurut saya banyak yang harus direncanakan dengan perhitungan yang genap. 

Read More

Friday, July 21

(Masih) Monoton

Waktu masih terus berjalan. Pun hidup yang kian lama kian menggantikan pemahaman saya pada banyak hal. Belum signifikan memang pergeserannya, karena hidup saya yang memang masih monoton, belum jua menemukan fase kehidupan selanjutnya.


Sudah sejak Mei silam saya kembali ke rumah saya yang sesungguhnya, namun ironisnya, hati dan pikiran saya masih di rumah saya yang sempat berada di seberang sana.
Belum kuat untuk menerima kenyataan-kenyataan baru yang harus saya telan keberadaannya.
Entahlah, mungkin ke-tidak-kuatan ini hanya perasaan yang saya artikan karena saya belum memiliki kesibukan lainnya.
Mungkin, ke-tidak-kuatan itu akan memudar seiring saya memiliki kesibukan baru dan memasuki fase hidup yang seharusnya saya jalani di usia saya yang kian tua, hehe ― tidak ada yang tau.


Tidak terasa sudah hampir 1/4 tahun saya membawa gelar S.Ikom yang belum jua mendapatkan jodoh pekerjaannya. Kalau dibilang belum siap bekerja, saya pikir tidak ada satupun orang di dunia ini yang siap bekerja, menghabiskan tenaga dan menanggung beban pikiran, semata-mata untuk kehidupan masa depannya sendiri.
Saya pikir tidak ada di kehidupan ini manusia senaif itu yang semangat bekerja untuk mencari selembar dua lembar kertas cetakan Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Ya namun inilah hidup, harus ada usaha dan pengorbanan yang dilakukan untuk mampu membahagiakan jiwa dan raganya.
We have to give, to take something, also take to give something.

Tidak munafik, saya belum siap untuk bekerja karena masih terbayang-bayang kehidupan lampau yang setiap harinya dipenuhi gelak tawa. Saya takut di tahap ini tidak akan menemukan kenyamanan seperti yang saya dapatkan di waktu silam.
Namun, bukankah kita semua begitu? Terlalu terpuruk akan kemungkinan-kemungkinan terburuk, menciptakan phobia yang sebenarnya hanya ada dalam pikiranmu? Entahlah.
Kata orang, berdamailah dulu pada dirimu sendiri, maka semuanya akan damai pula kemudian. Ya saya tahu, saya yakin, juga percaya, saya butuh kehidupan baru untuk menutup lubang-lubang kehidupan lama yang kian lama terbuka makin lebar.

Namun, naifkah saya kalau berpikir bahwa bekerja dan pekerjaan adalah sesuatu yang sudah diatur oleh penguasa alam? Naifkah saya kalau menganut pemikiran bahwa profesi saya nantinya adalah obat untuk luka saya yg menganga ini? Naifkah saya untuk tidak melulu berusaha secara maksimal karena percaya bahwa segalanya adalah kehendakNya?

Ah....
Sudahlah.
Selamat malam, langit malam. Sampaikan pada cahaya-cahaya di sana, bahwa aku adalah pengagum malam. Sampaikan pada cahaya-cahaya di sana, bahwa berkat gelapnya, kalian adalah guratan indah yang membawa ketenangan.
Dan berkatnya, kalian berdua adalah salah satu seteru yang aku kagumkan.


Sumber: static.tumblr.com

Read More

Monday, May 29

New Chapter (Again)

Sebetulnya, kesuwungan bikin saya ingin kembali ke dunia blogger hehe tapi sayangnya keinginan saya ngga berbanding lurus dengan actionnya, pathetic ya :( jadilah begini dalam kurun waktu 1 tahun, ambil contoh 2016 silam, saya hanya update 5 postingan hmmm seems like saya gak niat punya blog :( tapi ya sudahlah haha gimanapun, in the end, saya akan kembali padamu blogger :"

Jadi, hari ini saya datang dengan gelar S.Ikom yang - akhirnya - saya dapatkan setelah hampir 5 tahun berupaya haha. Sebelumnya saya sudah cerita kalo saya sedang proses mengerjakan skripsi, dan tadaaaa, akhirnya tanggal 06 Maret 2017 silam saya sidang :))  Waktu pengerjaan revisi ditentukan maksimal 2 bulan tapi Alhamdulillah saya keburu untuk ikut wisuda kloter April hehe bareng temen-temen dekat juga ceritanya mau ala-ala friendship goals gitu deh.


Keceriaan sesaat, sesudahnya mah bingung wkwk

Euphoria wisuda berakhir, dan keluarga saya pulang ke Jakarta sehari sesudahnya, tanpa saya yang jelas. Saya gak shanggup kalau harus berpisah sama Solo dan kerabat-kerabat saat itu juga. Saya butuh waktu.

Saya menjalani kehidupan seperti biasanya di Solo sesudahnya hingga 7 Mei 2017 kala itu. Rutinitas saya yang berupa tidur bersama salah satu antara Milly atau Millo — alarm pribadi saya pagi-pagi yang kalau berbunyi tandanya lapar dan minta makan — lalu kembali tidur, dan bangun sekitar pukul 10-11, kemudian bergegas mandi, makan, gabut time yang saya isi dengan beragam aktivitas, makan malam, dan keluar untuk sekedar mengobrol bersenda gurau dengan teman-teman ke tempat sederhana sambil menikmati segelas kopi, coklat, susu segar, maupun fast food. 

Sebuah kehidupan yang terlihat monoton, namun ternyata ketika dijalani langsung ternyata adalah kehidupan impian, life goals. Gimana gak life goal, orang habis wisuda beban udah terselesaikan, belum mikir kerja, hidup masih dihidupin orang tua, isinya main doing. What a life!!!
Hidup sederhana bersama kerabat-kerabat hebat yang selalu ada dalam berbuat kebaikan dan setengah kejahatan, hehe.
Hidup sederhana yang mampu membawa kebahagiaan jiwa dan raga.
Kehidupan sederhana yang membuat saya mampu hidup hanya di dunia nyata, tanpa harus memikirkan adanya dunia virtual.
Ngomong-ngomong mengenai dunia virtual, saya pernah baca sebuah quote yang tersebar di dunia maya, yang isinya kurang lebih begini, "You really enjoy the moments when you're not post it to social media" dan saya baru menyadarinya saat ini ketika menuliskannya bahwa itu benar. Saya jarang membuka ponsel ketika bersama teman-teman saya. Saya sangat jarang sekali post di snapchat maupun snapgram. Kalau dipikir-pikir sih, dunia harusnya tau saya bahagia hidup bersama kerabat saya, tapi ternyata dunia gak perlu tau. Hm bukan gak perlu tahu, sih, tapi saking asyiknya berbincang sama mereka, saya sampai lupa kalau di dunia ini ada yang namanya dunia maya.

Ah...ternyata saya tidak cukup bijak untuk menyikapi perubahan lempengan kehidupan ini. Saya masih saja terpaku dan memutar balik segalanya walau tidak dengan rinci. Hampir satu bulan berlalu semenjak saya melepaskan diri, namun belum juga pikiran dan hati ini berpenghuni lagi.


Read More

Sunday, December 4

Indienesia!

seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya lagi hobby banget denger lagu-lagu indie. playlist #1 sih ada Senar Senja dengan Dialog Hujannya, beuh paraaah adem banget tiap denger lagu ini. bahkan ini udah jadi playlist saya sejak sebulan atau malah hampir dua bulan yang lalu dan amazingnya gak bosen-bosen. habis itu #2 ada Elegi dari Figura Renata. sebenernya sih gak cuma dua, cuma dua itu yang most played di playlist saya hehe

"Di bumi yang renta ini
Bisu pun bertambah tuli
Tak ada yang bicara
Apalagi mendengarkan
Peduli pada sendiri
Makhluk sosial tanpa sosial"
-Elegi by Figura Renata

penggalan liriknya tamparan banget ya, apalagi video klipnya yang ngegambarinnya pake keautisan orang-orang sama gadget padahal lagi duduk bersandingan. kalo ditafsir sih sebenarnya lirik itu gak cuma dalam ruang lingkup permasalahan 'gadget' aja, banyak permasalahan negeri ini yang sebenarnya berawal cuma dari sekedar bicara dan mendengarkan tapi ujungnya jadi permasalahan yang rumit. ralat, bukan permasalahan negeri sih, lebih pasnya permasalahan sumber daya manusia di negeri ini yang akibatnya negeri kita lah yang dibawa-bawa. irony but reality.

kalo Elegi barusan itu sebuah kritik sosial, Dialog Hujan ini lebih ke.....hm apa ya nyebutnya, mungkin lebih ke perasaan, sebuah curhatan hati tentang hidup.  

"tanpa kata tanpa nada 
rintik hujanpun menafsirkan kedamaian
hanya rasa hanya prasangka 
yang terdengar di dalam dialog hujan"
-Dialog Hujan by Senar Senja


liriknya damai, lagunya lebih sendu hehe. sendunya bukan sendu galau, tapi sendu yang ngademin hati. banyak lagu indie di playlist saya yang sendu-sendu sejenis ini. saya jadi sedih, kenapa gak dari dulu aja saya kenal band-band indie wkwk zaman SMA dulu saya belum ngerti banget sama band-band indie lokal, cuma tau beberapa aja, dan kayaknya yang lagu-lagunya sejenis ngademin hati gini yang saya tau dulu cuma Adhitia Sofyan. well, call me norak it's okay I admit it. semenjak kuliah deh baru saya perlahan tau. bergaul sama orang-orang baru membuat saya paham bahwa pengetahuan saya ternyata bukan sekedar sempit, tapi terlampau sempit. yah setidaknya lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

so maju terus musik Indonesia, ditunggu karya-karya menakjubkan lainnya.

maxresdefault.jpg (1920×1080)
sumber: Indielokal Youtube Channel
Read More

Wednesday, November 23

if you hate to do it, then don't

akhir-akhir ini saya lebih suka mendengar lagu-lagu indie dalam negeri yang ternyata lebih berkualitas daripada lagu-lagu pop yang dinyanyikan oleh artis-artis nasional papan atas, hehe  no offense, I'm just saying  diksinya lebih menggugah, puitis, dan tentunya butuh pemikiran lebih dalam untuk memahami maknanya.

dan detik ini, saya masih berkutat dengan skripsi yang tuk urung jua menemui tanda titik dari kata terakhir. sulit mencari motivasi yang benar-benar mampu mengasah semangat dan tekad untuk lekas mengakhiri semua ini. bahkan melihat teman-teman dekat yang sudah banyak mencapai tangga teratas pun tidak menggugah kemauan kecuali rasa sedih. how pathetic I know.

ah....memikirkannya membuat saya ingin sejenak pergi ke suatu tempat baru yang belum saya jelajahi. saya ingin melihat senja dari sisi langit yang lain. saya ingin merasakan hangat sinar mentari di laut yang lain. saya ingin merasakan desauan angin di tekanan udara lain. saya ingin mendengar kicauan burung pagi hari di taman yang berbeda.

betapa waktu seperti roda, yang dipersatukan dengan mesin dan terbentuklah sebuah mobil yang dikendarai dengan kecepatan tinggi. betapa dampak yang dihasilkan tidak pernah mampu terurai dengan sempurna. betapa mudahnya garis kehidupan seseorang berganti seperti pesawat yang terbang di angkasa dan dalam sekejap kita menapakan kaki di belahan bumi yang lain, sekilas indah namun nyatanya di balik keindahan itu ada hal yang terpaksa kita korbankan.


bergulat dengan skripsi di dini hari ini membuat pikiran saya membumbung jauh ke beberapa hal yang seharusnya tidak saya ungkit di saat-saat seperti ini, bahkan tanpa disadari saya sudah menulis dua paragraf yang setelah dibaca ulang saya ga mampu mengejanya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

saya belum siap menjalani hidup baru setelah lulus dari studi kuliah.

saya belum siap meninggalkan Solo.

saya belum siap kembali tinggal di Jakarta. 

saya belum siap mencari sosok penggantinya.

namun di satu sisi, saya ingin lekas mendapat gelar dan menghadapi fase hidup baru dimana saya bisa melakukan hal yang saya sukai setiap hari dan menghasilkan uang dari hal itu. 
betapa indahnya membuka lembaran baru kehidupan di mana saya tidak harus membebani orang tua dengan kebutuhan-kebutuhan saya. 
betapa saya ingin menemukan sosok-sosok lain yang bisa memberi warna baru dalam hidup saya. 
betapa berharapnya melihat keluarga dan sahabat saya secara riil setiap harinya, bukan hanya secara virtual. 
betapa life goal-nya jika saya mampu mengeksplore negara ini lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih dalam. 
begitu pula dengan menemukan sosok yang telah dijanjikan Allah sebagai pasangan abadi saya.

 entahlah. bahkan untuk memahami pemikiran sendiri saja saya enggan. entah itu enggan, entah itu ketidaktahuan. 



Hasil gambar untuk don't overthink tumblr
Read More

Sunday, November 6

Mendayu-dayu

Entah ada angin apa, tiba-tiba saya berkeinginan buat ngerubah tatanan blog ini. Udah bosen kali ya, ditambah template yang terakhir belum saya edit maksimal jadinya ngerasa kurang aja gitu. Dan tadaaaa!!!!! Ini dia tampilanmu sekarang. Lebih cantik, ya walau belum bisa make over kamu secara expert, maklum aku mah masih tergolong gaptek hiks, but at least youre growing much better :)))

Kalau ada yang berpikir 'ih masih aja mainan blog, udah gak jaman ah' saya sih emang setuju. Setuju banget karena kita tahu seiring berkembangnya teknologi, hadirlah vlog di kehidupan ini. 'Terus kalo setuju kenapa masih mainin blog?' Hm sebenarnya jawabannya simple sih, karena saya mainin blog bukan untuk mengikuti trend semata. Karena saya lebih suka menceritakan kehidupan saya melalui kata-kata. Karena saya lebih suka untuk menginterpretasikan sesuatu yang berbentuk kata-kata. Karena saya lebih suka mengingat kemudian membayangkan kejadian masa lampau di dalam pikiran. Walau audio visual terlihat lebih nyata, namun saya merasa kata-kata mampu membuat segalanya lebih hidup dan lebih dramatis, hehe. Yah walau pada kenyataannya saya udah jarang banget posting sesuatu di blog ini :( Padahal yang baca juga ngga ada sih jadi gaada yang dirugikan wkwk ironi. Ya setidaknya buat portofolio kehidupan aja tanpa ada maksud lain.


Selepas dari itu, di sisi lain, ada hal lain yang saya gak tahu harus menceritakannya mulai dari mana.


Bahwa....
Mungkin benar apa yang dikatakan orang, terkadang bukan sosoknya yang kita rindukan, bukan sosoknya yang kita inginkan. Melainkan kesulitan dalam menghilangkan kebiasaan bersama, kesulitan menghadapi kenyataan bahwa kenangannya lah yang kita rindukan.

Aku selalu mengharapkan kau kembali. Setiap saat. Bahkan hingga detik ini. Namun saat itu tiba, aku justru terbangun. Aku sadar bahwa dalam sebuah hubungan rasa sayang tidaklah cukup. Bahwa logika dan hati memang selalu berbanding terbalik, namun tetap, rasionalitas harus bisa digapai antara perbedaan itu. Aku paham bahwa tidak selamanya keterpurukan ini membawa duka. Lihat saja hujan yang terkadang memberikan pelangi di penghujungnya, tanah subur yang diakibatkan oleh lelehan lava, dan letihnya perjalanan mendaki gunung untuk menikmati puncaknya.

Duka itu pasti. Pun dengan suka. Layaknya perkataan yang selalu aku ingat "Kehidupan itu seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit" -Pramoedya Ananta Toer

Saya yakin bahwa sebab-akibat tidak pernah berdusta, bahwa mereka akan menemukan jalannya sendiri untuk menciptakan keadilan di hidup seseorang. Bagaimanapun. Bahkan ketika ia bekerja secara rahasia. 


Sumber: www.tumblr.com

Read More

Friday, September 30

Jawaban dan Harapan

Aku terus bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pertanyaan yang sebagian besar orang menjawabnya dengan kata-kata yang sama, sehingga aku tau memang hanya itulah jawaban yang ada, hanya itu jawaban yang tersisa, hanya itu jawaban yang tepat untuk diutarakan sekaligus menjadi kenyataannya. 

Namun entah mengapa aku terus menerus menanyakannya kepada orang lain, orang yang belum pernah aku tanya sebelumnya, orang yang aku harap akan menjawabnya dengan kalimat yang berbeda, orang yang aku harap akan lebih mampu menyimak setiap detail pertanyaanku sehingga mereka lebih mampu memahami maksudku.

Berhari-hari ini aku mencari, aku mencoba, dan aku berharap pada sesuatu yang sudah bisa aku tebak kelanjutannya. Tidak ada perubahan. Tidak ada perbedaan. 

Hanya saja aku belum siap untuk menerima jawabannya. Bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu yang ingin aku dengar. Bukan itu jawaban yang ingin aku terima kenyataannya. 


quote, advice, and answer image
Sumber: www.weheartit.com
Read More

Wednesday, February 17

Kuliah Kerja Ngangenin

Aku ingat tahun lalu terlalu bersemangat ketika mendapat kabar bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kembali diadakan.Ingat bagaimana aku membayangkan betapa serunya KKN ketika mendengar pengalaman KKN dari seorang kakak tingkat, mbak Lia.  Aku ingat bagaimana aku sering mengeluh karena aku harus menjalani magang terlebih dahulu, baru kemudian bisa mengambil KKN pada semester berikutnya. Ingat bagaimana aku dan teman-teman memiliki wacana untuk KKN mandiri, namun gagal. Ingat bagaimana  pemikiran-pemikiran tersebut berputar 180 derajat tepat di saat aku memulai KKN-ku. Ingat bagaimana aku menyesal menolak sendiri ajakan untuk KKN mandiri ke Belitung.  Ingat bagaimana penyesalanku akan pemikiran-pemikiran positif mengenai KKN.

Kuliah Kerja Nyata.

Kegiatan yang pada awalnya sangat menarik untuk diikuti, hingga kemudian sadarlah aku bahwa itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dinantikan, walau pada akhirnya aku paham bahwa kegiatan satu kali seumur hidup ini terlalu singkat-45 hari. Sesuatu yang  baru memang membuat waktu terasa begitu lama pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu itu sendiri menyadarkan bahwa 45 hari saja tidak cukup. Bahwa 45 hari itu adalah masa-masa singkat yang ntah dengan magic apa bisa merupakan pikiran, tingkah laku, bahkan kebiasaan.Termasuk di sini tak lain adalah aku. Aku belajar banyak hal. Aku diberi wawasan-wawasan baru yang sebenarnya sepele namun aku sendiri tidak memahaminya. Aku sedikit demi sedikit mulai belajar untuk bisa bicara bahasa Jawa, belajar menyalakan api di pawon, belajar menyusuri jalan di medan yang terjal berbatu. Untuk pertama kalinya aku mandi di kali, and for God's sake I love it. Pertama kalinya juga menyetir motor sendiri dengan rekor baru mengenai jarak dan waktu. Pertama kalinya melihat langsung mengumpulkan cacing yang didapat langsung dari tanah ketika kerja bakti. Pertama kalinya aku merasakan nasi jagung. Pertama kalinya juga aku menjadi MC dalam suatu acara, walau kenyataannya gak semulus yang ada dalam ekspektasi, haha. Pertama kalinya aku merasa bahwa beban yang seharusnya dipikul selama KKN ini bisa teredam, bahwa hidup yang seperti ini tidaklah sulit selama aku memiliki partner yang luar biasa. Dan untuk pertama kalinya dalam kehidupan perkuliahan, aku hidup dengan orang-orang yang sama sekali memiliki kebiasaan dan pemikiran yang jauh berbeda, namun justru aku menikmati setiap detiknya, setiap inch dari pergerakannya.

Aku memutuskan untuk memilih Pacitan, hingga akhirnya aku ditempatkan di Desa Jeruk, Bandar, dengan total anggota 10 orang; 2 laki-laki, 8 perempuan. Itu awal dari penyesalanku akan pemikiran-pemikiran positif mengenai KKN. How could it be possible when I had only 2 men in this group?  Ditambah dengan aku yang tidak bisa memahami pembicaraan mereka-aku sadar ini salahku yang tidak berusaha untuk menyesuaikan adat dan kebiasaan masyarakat sekitar. Berbeda dengan kehidupan perkuliahanku, dimana justru teman-temanku yang mengikutiku untuk mengobrol menggunakan bahasa Indonesia." I am not fit in here" that's what I thought at first I saw them. Dan sejak  saat itulah, KKN tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik di mataku. 

Setidaknya sampai mereka bisa memahami kondisiku bahwa aku kurang fasih dalam memahami dan berbicara bahasa Jawa.

Setiap hari menjalani hidup bersama. Mereka hal terakhir yang kulihat setiap malamnya, dan hal pertama yang terlihat di setiap pagi saat membuka mata. And I started to usual with this. I started to love them, no exception.

"Time goes so fast on things we loves too much"  
Hanya itu kata-kata yang mampu mewakilkan seluruhnya.
45 hari yang pada awalnya terasa lama, 45 hari yang pada awalnya aku kira akan menjadi hari-hari membosankan, 45 hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya, saat ini berubah sekejap menjadi 45 hari yang singkat--terlalu amat singkat untuk dijalani bersama kalian, menjadi 45 hari yang aku harap setiap detiknya akan berjalan lama, menjadi 45 hari yang membuatku berharap bahwa 1 hari lebih dari 24 jam.

"Di saat kau merasa nyaman akan suatu situasi, di saat itu juga garis perpisahan akan segera membentang"

Lagi-lagi, aku dihadapkan dengan situasi seperti ini. Berpisah di saat aku sudah merasa nyaman, beradaptasi lagi saat aku belum bisa merelakan.  

"Bersamamu ku habiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya" Lirik lagu Ipang - Sahabat Kecil ini yang terbesit begitu saja di pikiranku ketika aku menulis ini semua.



Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, tim KKNPenthol!



Read More

Sunday, June 1

Karena Opini Bebas dari Kata Salah

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan kerabat yang sudah lama tidak saya jumpai. Dari sekian banyaknya hal yang kami perbincangkan, saya paling ingat kalau dia tiba-tiba berbicara seperti ini, "pengen deh punya pacar, tapi males kalo inget masa depan, tapi pengen punya sosok yang peduli sama kita". Saya refleks tertegun. Bukan karena apa-apa, tapi karena tipe seseorang seperti dia bukan sosok yang cocok untuk meresahkan persoalan masa depan, hahaha. Enggak, kata-kata itu gak menyentuh hati saya. Justru, akuilah, terlalu naif berbicara mengenai pacar, masa depan, dan sosok yang mampu mempedulikan kita dalam satu garis kausalitas.

Pertama, pacar. Ya, subjek utama dari serangkain kutipan tadi itu sudah jelas mengenai pacar. Apasih sebenernya pacar itu? Saya juga gak paham, dan saya yakin jawabannya pun relatif. Tergantung kepribadian orang yang jawab, dan dari sudut pandang mana dia menilik. Teman saya--panggil saja X--pernah berkata, "halah yang ki opo to? ra ceto. nek wis nikah gek wis enek surat, wis tercatat karo negara, ndue cincin nggo pengikat. iku baru isoh dipermasalahke. lho iki? ora usah dipermasalahke, soale nek kui wis jelas-jelas masalah". "Alah pacar tuh apa sih? Gak jelas. Kalo udah nikah terus ada surat, udah tercatat sama negara, punya cincin sebagai pengikat, itu baru bisa dipermasalahkan. Lah ini? Gak usah dipermasalahkan juga udah jelas-jelas masalah" waktu itu saya membenarkan ucapannya, dan iya memang benar. Kami bukan sosok yang anti pacaran seperti yang kamu kira kok. X ketika itu juga punya pacar, bahkan umur hubungan mereka sudah tergolong lumayan, 4 tahun, berbeda dengan saya yang baru pertama kali meniti karir dalam hubungan yang sayangnya belum sejauh mereka. Kami hanya berbicara realistis dari sudut pandang senormal-normalnya manusia yang terlepas dari pengaruh cinta-itu-buta.

Dalam agama saya sendiri, sebenarnya pacaran itu dilarang. Tapi gak munafik, ketika ada satu orang yang bisa ngasih kenyamanan berlebih, saat itu juga kita bisa mengabaikan larangan itu. Memang, kenyamanan itu bisa didapat dari banyak orang. Keluarga, sahabat, mereka selalu ada, tapi jangan lupa kalau Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan sehingga mau ngga mau kita membutuhkan lawan jenis yang mampu memenuhi separuh kita. Terlalu dini? Bisa dibilang seperti itu. Tapi, kembali pada kenyamanan, saya tidak bisa serta-merta menolak kenyamanan yang tidak dari semua orang saya mampu mendapatkannya.

Lalu, hubungannya dalam konteks masa depan, seharusnya, justru seorang kekasih yang baik itu mampu mengarahkan, menopang, dan memapah pasangannya ke arah yang lebih baik. Secara tidak langsung, 'lebih baik' yang mampu dihadirkan oleh kekasih tadi mampu membawa kita menuju masa depan yang juga lebih baik. Setidaknya, begitulah teori berbicara. Jadi, menurut saya sendiri, salah ketika seseorang berbicara mengenai kekasih (yang sebenarnya) dan masa depan secara berbanding terbalik. Kekasih yang benar tidak akan menodai, apalagi mengganggu keberlangsungan hidup kita saat ini yang mampu mempengaruhi masa depan. Dia akan senantiasa berdiri hanya untuk sekedar mengetahui bahwa apa yang kita kerjakan saat ini tidak menuntun kita ke arah yang salah.

Peduli. Ya, sudah jelas kekasih adalah salah satu sosok kerabat yang mampu memberikan rasa pedulinya pada kita. Tapi jangan salah, kita juga bisa mendapatkannya, dari keluarga, sahabat, bahkan dari temanpun kita bisa merasakannya. Hampir mirip dengan kenyamanan, peduli yang kita dapat dari kekasih itu akan terasa berbeda dibanding peduli-peduli yang dilontarkan sosok lainnya. Dalam konteks ini saya tidak pro ataupun kontra dengan pernyataan teman saya yang diawal telah saya kutip, hanya saja...ah terlalu sulit mengungkapkannya. Pada akhirnya, kekasih bukanlah sesuatu yang mampu dijadikan alasan pengganggu masa depan, kekasih memanglah terlabelling sebagai sosok yang satu-satunya terlihat mampu mempedulikan kita, namun ada kalanya kita sadar bahwa kepedulian mampu hadir dari siapa saja, bahwa banyak sosok yang menyayangi kita selain makhluk bernama kekasih di luar sana.


Read More

Monday, May 26

kembali?

aku sudah hampir lupa bagaimana rasanya kembali
kembali dalam semua awal keterciptaan
kembali dalam semua keberadaan
kembali dalam semuanya yang menimbulkan ada
aku lupa bagaimana damai dari kembali
mungkin ia lebur seumpama pasir yang direngkuh dalam untaian jemari?

kembali tak selalu lebih gelap
tak selalu lebih bercahaya
kembali itu ke-anarki-an
yang tergores akibat pecahan kaca yang orang torehkan

jika saja untuk kembali itu mudah

Read More

Sunday, March 16

Hebatnya antonim


Ngga akan seseorang disebut-disebut cantik kalau ngga ada kehadiran si jelek. Nggak akan ada sebutan miskin kalo ngga hadir juga si kaya ditengah-tengahnya. Ngga ada kategori tinggi kalau ngga ada pendek disekelilingnya. Nggak ada yang namanya berkah kalo gak ada musibah yang menjadi acuan. Nggak akan ada yang namanya sakit kalo gak ada sehat sebelumnya. Semua ada karena ketiadaan. Kehidupan hadir dari kehampaan. Dan kausalitas itu mutlak.
Read More

Sunday, March 9

Ini Aksiku! Mana Aksimu?!

Hai!!! H-21 menuju Earth Hour hehehe. Well , tau kan earth hour? ituloh event yang kita matiin lampu selama sejam.Ya, pasti sekelibet pernyataan seperti itu yang terlintas dipikiran kita kalo mendengar kata Earth Hour haha. Kenapa saya bilang begini? Karena gak munafik, sayapun melakukannya sebelum saya tahu lebih lanjut seperti sekarang. Iya, untuk saat ini saya sudah lebih tahu. Ternyata Earth Hour gak cuma terbatas di situ, tapi mencakup banyak hal. Apapun yang kita bisa lakukan untuk lebih ramah terhadap bumi, itu juga lah yang menjadi 'cakupan wilayah' Earth Hour ini. 

Saya sendiri tau Earth Hour itu sejak saya duduk di bangku SMP. Entah bagaimana kronologinya, tapi yang mampu saya ingat hanya satu hal: matikan lampu dan listrik selama satu jam. Bukan maksudnya membanggakan diri atau ingin melampirkan suatu pencitraan, namun memang setiap kali saya dengar Earth Hour akan diadakan, saya selalu excited. Entah mengapa. Waktu itu, saya belum mengerti kalau acara ini diadakan setiap tahunnya diseluruh dunia. Bahkan saya baru tahu kalau ternyata Earth Hour itu juga memiliki puncak acara yang biasanya diadakan si tiap kota yang sudah mendedikasikan dirinya untuk bergabung. Satu kota, satu acara besar, sebagai simbolis. Ya, Solo yangkalau tidaksalahdua tahun lalu mendedikasikan diri untuk bergabung ke komunitas itu mampu memberi saya pelajaran baru untuk yang kesekian kali. 

Singkat cerita, saya mengajukan diri menjadi volunteer acara Earth Hour Solo ini. Dan, disinilah semuanya bermula. Eits, bukan apa-apa, tapi permulaan saya mengetahui lebih luas mengenai Earth Hour. Saya akui, mereka semua mulia. Ya, orang-orang yang bergabung di dalamnya. Ternyata, manusia se-serakah itu, hingga akhirnya keserakahan itu menjadikan bumi rapuh.  Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa disini saya bukan hadir untuk menjadi seseorang yang sok suci yang tidak pernah melakukan sedikitpun perbuatan yang bisa menambah keusangan bumi. Saya hanya ingin sedikit merekonstruksi segala hal yang mampu saya rekonstruksikan, dengan tujuan supaya siapapun manusia yg belum tahu mampu mengerti, dan syukur-syukur mampu merubah pola hidupnya menjadi lebih 'hijau'.

Berawal dari komitmen yang dibuat oleh para volunteer, saya pun semakin terbiasa. Pada awalnya, saya sudah sadar bahwa saya adalah tipe orang yang selalu mematikan lampu ketika tidak diperlukan. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk menggunakan listrik seperlunya. Setelah itu saya juga berkomitmen untuk mengurangi penggunaan tissue dan membawa tumbler sendiri kemanapun saya pergi. Tidak munafik, kita semua butuh listrik, kita butuh tissue, dan pastinya kita membutuhkan air minum dalam melakukan aktivitasyang terkadang tidak bisa kita pungkiri bahwa kita untuk memutuskan beli. Saya tekankan sekali lagi, keberadaan Earth Hour disini bukanlah memaksa manusia melakukan hal-hal yang sekiranya bisa merusak bumi, namun meminimalisir. Jika dilihat, memang ini hanyalah hal sepele yang terlihat tidak berefek apa-apa. Tapi coba silahkan dipikir matang-matang, jika satu persatu orang mulai menyadarinya, berapa persen bumi mampu terselamatkan? 

"Everything starts with one."

Dua minggu silam, komunitas Earth Hour di seluruh kota melakukan aksi serentak dengan tema #plastiktakasik, sedangkan hari ini kami kembali mengadakan aksi serentak dengan tema #BijakKertas. Di Solo sendiri, aksi ini diadakan di Jl. Slamet Riyadi bersamaan dengan diadakannya Car Free Day. 


Jadi, ini aksiku! Mana aksimu?!
Read More

Friday, February 21

Sesederhana itu...

Pernah gak dalam fase hidup kalian, kalian mengalami yang rasanya sayang sama orang? Orang disini bukan sosok Tuhan, keluarga, atau sahabat. Tapi lebih menuju ke satu sosok lawan jenis yang kalian rasa sengaja dikirim Tuhan untuk menemani kalian, untuk menunjukkan kalian kalo ngga semua malaikat itu invisible. Saya pernah. Saya sedang merasakannya. Sejak setahun lebih yang lalu. Sudah pernah juga saya singgung sebelumnya bagaimana pertemuan itu bermula. Pertemuan yang sampai saat ini masih teringat dengan jelas kronologinya.

Saya belum memahami kalau dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemani saya, sampai akhirnya hari demi hari berlalu, dan sekarang, saya takut kehilangannya. Dalam kurun waktu satu tahun, semuanya berubah dengan sangat pesat. Kehadirannya, mampu meleburkan semua ketakutan yang selama ini saya alami. Senyumannya, mampu meluluhlantakkan segala kesedihan yang saya rasakan. Kehangatannya, mampu menghentikan kuatnya putaran waktu dan membuat saya seakan tidak membutuhkan siapa-siapa lagi kecuali dia. Sesederhana itu.

Saya tidak tau kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang saya alami ini. Saya sendiri menilai rasa ini sudah terlalu berlebihan, tapi setiap orang berhak beropini bukan? Berbincang dengannya membuat saya tidak ingin berhenti berbicara. Seandainya kenangan-kenangan itu tetap tersimpan tanpa cela, saya pastikan saya mampu hidup jika hanya bersama kenangan-kenangan itu. Seandainya mereka bisa saya simpan dalam sebuah tabung transparan, saya mampu memiliki tempat tinggal hanya dengan tabung itu sebagai perabotnya. Sesederhana itu.

Untuk saat ini, segalanya masih tetap sama. Masih akan tetap sama. Entah untuk berapa lama. Saya sempat menyesali sifat saya yang seperti ini. Sifat saya yang terlalu percaya pada sosok-sosok yang saya sayangi. Sifat saya yang selalu mampu terpaku hanya pada satu sosok dan benar-benar memberikannya seluruh rasa sayang yang mampu saya berikan. Sifat saya yang terhitung sulit untuk meninggalkan semua-muanya yang memang harus berlalu. Sifat saya yang sulit untuk pergi. Rumah baru yang saya miliki ternyata tidak bertahan lama. Saya terlalu bodoh untuk tidak memilih pondasi yang sangat kuat. Saya terlalu naif untuk percaya bahwa semua yang pergi pasti akan diganti dengan lebih baik. Entah dengan harus kalimat apa lagi saya mendeskripsikan malaikat yang terpaksa harus pergi karena jangka waktu yang ia punya telah habis. Entah kapan Tuhan akan menggantikannya dengan malaikat yang lebih baik dan memiliki jangka waktu yang lebih lama. Semoga malaikat yang sempat menjaga saya bisa menemukan sosok yang lebih baik dan mampu membuatnya bahagia. Semoga malaikat itu tidak semerta-merta melupakan saya seraya ia berhenti menjaga saya. Semoga, ia lebih mampu membahagiakan Tuhan dengan sosok barunya. Sesederhana itu.

....namun seandainya sesederhana itu, apa bisa saya meminta Tuhan agar ia tetap menjaga saya? Atau setidaknya, menjadikan perasaan yang sedang bergejolak ini lebih sederhana? Supaya pada akhirnya, saya bisa dengan cepat melaluinya, mengikhlaskannya.
Read More

Wednesday, February 19

Pray for Indonesia.


Hai, memasuki minggu kedua tahun ajaran baru saya sedikit nervous. Entah kenapa haha mungkin atmosfernya aja yang seakan memaksa saya buat harus merubah pola hidup yang bisa menggagalkan untuk bisa dapet IP yang lebih bagus. Sejauh ini memang belum keliatan gimana gimana dosen dan sistem pembelajaran yang bakal saya tempuh, tapi satu hal yang pasti...saya harus bisa lebih serius. Membandingkan IP saya dengan teman-teman sedikit memberi saya acuan untuk bisa lebih serius, walau pada nyatanya alhamdulillah saya masih bisa ambil sks full sampai semester ini. Haaah mbok syukuri apa yang ada to ndok.....eits, mensyukuri bukan berarti kita gak perlu berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dong hehe kalo bisa, why not?

By the way, beberapa hari kemarin saya dapet pengalaman yang benar-benar waw. Sepeninggal meletusnya gunung Kelud silam, kota rantau saya turut merasakan dampaknya. Dan saat itu juga, saya perdana merasakan bagaimana rasanya berada dalam situasi ketika alam memberontak. Di malam gunung akhirnya meletus, saya dan teman kos dan juga warga Solo lainnya, mampu mendengar dengan jelas bagaimana dentuman suaranya. Kalo digambarkan, suaranya serupa suara petir tapi bedanya suara ini kontinu gak berhenti-berhenti mungkin ada sekitar 3-5 menit. Bersamaan dengan itu, saya juga merasakan getaran yang memang gak hebat, bahkan terhitung kecil karena barang-barang gak sampai pindah tempat. Tapi nyatanya, getaran itu mampu membuat kaca rumah seberang kos saya serta fiber ikut bergetar. Dan dari cerita seseorang yang saat itu lagi asyik nonton di XXI, dia juga mampu merasakan getarnya, bahkan mungkin lebih terasa daripada yang saya rasakan. Alhamdulillah, Allah masih menjaga kota ini dengan enggan memberi yang lebih parah. Saya masih mampu tidur nyenyak pada Kamis malam namun lebih menuju Jumat dini hari itu. Sebangunnya saya di pagi hari, saya dikabarkan melalui sms untuk tidak keluar kos pada hari itu. Saat itu juga saya tahu bahwa Solo dilanda hujan abu. Jujur saya tidak percaya, sampai akhirnya saya memastikan sendiri dengan melihat pemandangan luar secara langsung. Yah, benar saja. Satu hal yang mampu saya petik saat itu, "sehebat ini Allah mampu merubah kehidupan seseorang hanya dalam sekejap". Bagaimana tidak? Saya yang tidak pernah merasakan bagaimana bencana alam, dan notabenenya juga tidak pernah membayangkan, dalam seketika itu pula saya mendengar langsung suara letusan gunung + getarannya beserta hujan abu langsung dari letusan gunung berapi tersebut. Saya ngga mampu membayangkan bagaimana warga lyang berdomisili disana menyikapi bencana seperti ini. Saya sendiri yang letaknya jauh dari lokasi kejadian merasa bahwa efeknya sangat mempengaruhi. Belum kelar dengan banjir Jakarta dan musibah gunung Sinabung, warga Indonesia sudah harus merasakan bencana lain seperti ini. Benar-benar saya ngga bisa membayangkan bagaimana perasaan warga setempat. Saya turut simpati atas kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini melanda NKRI #PrayForIndonesia. Semoga semuanya akan membaik sesegera mungkin, dan semoga kejadian ini mampu menyadarkan kita akan kurang lebihnya peran manusia sehingga mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Dan semua warga yang merasakan efeknya mampu diberi kesabaran dan ketabahan menjalani bencana ini. Allahuma amin. 
Read More

Friday, January 31

Pertemuan Singkat

Hari ini, alasan kebahagiaan masa lalu saya akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamannya demi menjumpai—yang tak lain juga merupakan—alasan kebahagiaannya di masa lampau. Hari ini, saya kembali diberikan kenyamanan oleh rumah yang dahulu pernah saya huni. Dan hari ini, saya kembali disadarkan bahwa rasa syukur tidaklah sulit untuk dipanjatkan, bahwa kita selalu dapat menemukan alasannya di setiap lembar kehidupan. 

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang akhirnya diadakan setelah berbulan-bulan yang lalu kami bersua dan bercengkrama. Pertemuan yang.......yah, tergolong sangat singkat :") Mereka adalah kebahagiaan yang saya temukan ketika saya menduduki bangku SMA beberapa tahun silam, dan saya yakin bahwa saya juga bagian dari masing-masing alasan mereka mampu menceritakan memori-memori konyol mengenai kehidupan kepada anak-anaknya kelak. Hebatnya, biasan kebahagiaan yang mereka ciptakan ngga berhenti begitu aja seraya kita pisah dan kemudian dipenjara oleh kesibukan masing-masing. Bahkan sampai detik ini, saya mampu merasakan euphoria bahagia hanya dengan menatap foto-foto seputar kami. Ya, sesederhana itu. 

Kali ini, waktu kami buat singkat dengan karaoke. Ya, karaoke dua jam bersama mereka itu engga terasa. Jangankan dua jam, dua tahun menjalani hidup bareng aja engga berasa, tau-tau pisah. Haha siapa yang hebat, saya juga ngga ngerti. Entah itu waktu, entah itu mereka, saya rasa keduanya sama-sama hebat, dan gak heran kalo hasilnya juga segini berpengaruhnya ke hidup saya. Saya sudah sering mengungkapkan hal ini di postingan-postingan sebelumnya, bahwa mereka adalah penopang jarak jauh yang mampu menyadarkan saya bahwa ini nyata. Pedih yang saya alami akibat berpisah sementara dengan mereka, selalu mengingatkan saya bahwa hanya saya sendirilah yang mampu menyudahi hal itu. Secepat mungkin. Untuk kemudian bisa "pulang".

Obrolan sederhana mengenai rencana jangka pendek dan impian masa depan juga mewarnai pertemuan kala itu. Mengenai perjalanan-perjalanan luar kota yang belum sempat dan belum mampu dilakukan oleh bocah tengik semasa SMA dulu. Perjalanan sederhana ke tempat baru yang ingin kami jelajahi, gunung-gunung yang ingin kami daki, dan laut yang ingin kami arungi. Ya, saya rasa kota lain juga berhak mendengar gelak tawa yang terangkai dari bibir kami. Impian-impian masa depan mengenai wisuda dan pernikahan, yang entah kenapa hal satu ini tidak pernah bosan untuk dibahas. Mengenai salah satu dari kami yang insyaAllah akan wisuda tahun depan, dan siapa antara kami yang nantinya akan menikah duluan. Mengenai kebaya macam apa yang akan kami kenakan di setiap pernikahan masing-masing dari kami, dan siapa saja yang akan hadir di wisuda masing-masing dari kami. Mengenai apakah pada akhirnya X akan bersama dengan Y, W bersama dengan X, ataukah J dengan K. Dan banyak pembicaraan-pembicaraan lain yang mengalir begitu saja, yang mampu menuntun kami ke dalam kesadaran dan pemahaman bahwa kami telah banyak melangkah, bahwa setiap langkah yang kami pilih menjadikan kehidupan yang kami jalani kian runyam, bahwa hidup tidak pernah sama, dan bahwa disetiap fakta yang tadi disebutkan, kami berusaha untuk selalu mampu bersama.
Read More

Monday, January 27

Antara ngeluh dan merenung

27 Januari, semakin dekat menuju ajaran baru semester IV. Menuju lembaran baru di kehidupan mahasiswa yang ngga terlihat kaya kehidupan mahasiswa. Menuju hari keberangkatan ke tanah rantau untuk mulai babak hidup baru yang lainnya. Postingan kali ini lebih menuju ke renungan diri, dimana saya sadar bahwa saya sudah membuang banyak hal, termasuk waktu. Mungkin kalian berpikir bahwa saya terlalu banyak omong. Mungkin ketika membaca ini, dalam hati kalian mencibir 'udah tau begitu, bukannya diperbaikin, malah ngumbar'. Saya juga kurang paham kenapa saya memilih untuk menuliskannya disini, bukannya merancang list apa saja yang harus saya rombak dalam hidup saya supaya ke depannya ngga ada lagi yang terbuang sia-sia.
Saya mulai masuk ke dunia perkuliahan sekitar 1,5 tahun yang lalu, tapi saya ngga benar-benar merasa kuliah. Entah mengapa, saya merasa ini semua terasa hanya formalitas untuk mendapat gelar. Ya, hanya sekedar gelar supaya tidak kalah bersaing dalam era seperti ini dalam mencari lapangan pekerjaan. Status saya memang mahasiswa, tapi saya tidak pernah paham permasalahan politik dan ekonomi yang melanda negara ini. Saya tidak tahu siapa itu Anas, saya tidak tahu kenapa Farhat Abbas kerap kali dibicarakan masyarakat. Entah apakah ini bentuk keapatisan atau memang saya yang kurang peka terhadap permasalahan politik Indonesia. Pengetahuan umum saya terlampau rendah untuk ukuran mahasiswa semester 3, dan saya merasa jati diri saya belum dapat saya temukan sampai saat ini. Saya bahkan belum paham bakat saya, I don't know what I am good at. Ya, tidak jarang saya iri melihat orang-orang yang aktif di bidangnya, yang asyik melakukan hal yang dia suka dengan keahlian yang menonjol. Tidak jarang juga saya termotivasi untuk melakukan gerakan perubahan dalam hidup saya tatkala melihat pemandangan seperti itu, namun juga umumnya resolusi, itu semua hanya berlalu lalang dalam waktu yang singkat. Disinilah kebodohan saya dimulai.

Belum lama ini, saya melihat pict seperti ini di timeline twitter saya,
dan layaknya energi elektromagnetik, saya terkejut. Haha mungkin saya hanya merasa tersindir, karena selama ini liburan yang saya rencanakan hanya berada dalam sebuah tabung yang sering kita sebut wacana. Maklum, saya sadar diri untuk tidak menyodorkan telapak tangan ke hadapan orang tua saya untuk urusan kesenangan saya semata. Melihat juga keluarga saya yang juga bukan tumbuh dengan kegelimangan harta, saya lebih memilih untuk menabung dan mengumpulkan uang sendiri dalam hal travelling seperti ini. Maka dari itu, semua rencana perjalanan yang sering saya bicarakan bersama teman-teman berujung pada kenihilan semata. Pada dasarnya saya cuma ingin menyatakan, kalau picture itu masuk ke dalam resolusi semester IV saya, ya travelling. Begitu ajaran baru dimulai nanti, menabung bakal ada di deretan list teratas saya. Saya pribadi sih inginnya resolusi ini gak hanya bertahan 1-3 minggu, tapi namanya manusia (apalagi saya) suka ngga konsisten, jadi kita lihat saja ke depannya nanti, does this work or not. 
Untuk resolusi-resolusi lainnya, saya ngga mau sebut di sini. Karena saya ngga yakin bisa merealisasikan itu semua. Bukannya pesimis, tapi saya bukan tipe orang yang muluk-muluk. Saya tahu mana yang bakal saya realisasikan, dan mana yang saya sisakan buat direalisasikan belakangan. Dan kenapa saya menyebutkan perihal travelling, karena saya yakin hal itu mampu saya lakukan, travelling dari hasil menabung. Saya juga ngga paham dari mana bisa nemuin percaya diri yang sebesar ini, haha. Tapi saya sudah memutuskan nantinya akan mencanangkan the power of 20ribu haha walau masih ragu mau 20rb atau 10rb-__- Yah, apapun itu, walaupun travellingnya batal, setidaknya menabung itu ngga ada salahnya kan. 
Mungkin muncul pertanyaan, apa hubungannya travelling sama masalah renungan diri yang saya lontarkan di awal postingan. Saya hanya berpikir, bahwa saya kurang menjelajah hidup. Saya kurang bisa membuka diri, sampai akhirnya seperti ini. Belum memahami diri sendiri, belum memahami bakat saya, dan bahkan hal yang saya sukai. Entah sampai kapan saya bertahan dengan hidup dengan pola garis lurus begini. Entah sampai kapan saya akan merubah kegiatan saya bukan lagi sebagai formalitas. Entah kapan saya bisa menjadi mahasiswi layaknya mahasiswi yang bisa kritis dengan keadaan negara. Entah kapan saya bisa menjadi aktivis yang bisa merubah suatu kondisi atau minimal mengadakan acara sendiri. Entah, dan entah......Lagipula, siapa sih di muka bumi ini yang ngga ingin jadi seseorang yang bisa sukses karena dia mampu mengenal siapa dia? Everyone does, of course. Saya nggak tahu bagaimana ke depannya. Namun satu hal yang saya harap, saya ngga cuma bergantung sama takdir Allah dan cuma mengiyakan alurNya.
Read More

Friday, January 17

Dekapan Kerinduan

Entah harus memulai dari mana, dan entah harus mempersingkat cerita dengan memilih untuk menceritakan bagian mana. Berawal dari rasa aneh yang tiba-tiba muncul. Rasa aneh yang selama ini belum pernah nampak; atau emang guenya aja yang selalu mengingkari keberadaannya. It's been nine days since I got here, Jakarta, dan tebak apa berita anehnya? I just have passed two days here, sampai akhirnya gue sadar.....gue rindu kota perantauan itu, gue rindu Solo. Awalnya gue coba buat ngehalau perasaan ini, yang berkelibat di kepala gue cuma "alah, ngga mungkin!!! lagi ngga ada kerjaan aja makanya bilang begini". dan berkat sudut pandang itu, gue cuma bersikap 'bodo amat this must be joking'.
Hari itu berlalu dengan lesunya. Maksudnya, gue yang lesu menjalaninya. Kegiatan gue cuma seputar makan-tidur-mandi-nonton-internetan. Udah itu-itu aja kayak lingkaran setan. Dan hal itu makin makin membuat gue rindu....tanpa gue tau aspek apa yang sebenarnya gue rindukan. Hari keesokannya gue sambut dengan kegiatan yang agak-lebih-bervariasi dari hari sebelumnya. Gue coba cari kesibukan, gue bener-bener ngehindarin yang namanya suwung (dalam bahasa Indonesia: gak punya kerjaan). Namun....semakin gue mencoba sibuk, semakin gue paham, semakin gue ngerti kalo perasaan rindu akan Solo itu nyata. Itu semua nyata :""") Gue mencari celah buat paham apa yang ngebuat gue rindu, dan gue belum bisa menemukan apa-apa. Yap, I have no answers. 

Lagi, hari demi hari gue lewatin dengan rutinitas yang ngga jauh beda sama hari-hari sebelumnya. Tapi dini hari kali ini beda. Dini hari ini mata dan pikiran gue terbuka lebar-entah seiring dengan siakad yang jam 00.00 tadi udah lampu hijau tanda terbuka lebar atau bukan-seketika itu pula gue kembali ditampar dengan fakta-fakta yang selama ini emang enggan buat gue akui. Gue ternyata rindu banyak hal. Di sela-sela pembicaraan temen2 gue 'woy ke nannys pavilon yuk', 'sushi tei yuk', 'hanamasa yuk', dan berentet nama tempat lainnya yang ribet dan engga gue kenali, gue rindu kata-kata 'eh angkringan lah yuk'. Ntah bagaimana, Solo berhasil mengajarkan gue bahwa kesederhanaan itu menghangatkan. Gue rindu makan kucingan, minum es teh, dan cuma dengan bekal seperti itu, gue dan kawan makan gue lainnya betah buat tinggal berjam-jam cuma buat sekedar bercengkrama. Gue rindu sosis naga, yang awalnya gue sangka ini tempat waw banget cause everybody talks about this, dan ternyata itu semua diluar ekspetasi. Sosis naga yang tempatnya cuma berada di pinggir jalan, duduk diatas lembaran-lembaran tiker, and yes....that's enough buat orang-orang sini merasakan yang namanya bahagia. Bukan karena apa-apa, tapi karena kehangatan yang timbul dari sekedar duduk lesehan dan ngobrol ngalur-ngidul, ketawa lepas, nyanyi-nyanyi. 

Gue rindu bisa senyum dan ngebales senyuman orang yang bahkan gak gue kenal. Yak, ini hebatnya warga sana. Beli sate di tukang keliling waktu lewat depan kos aja bisa ngobrolin tentang apapun sama abangnya, bukan cuma sekedar 'bang, satenya satu, sambel kacangnya banyakin ya'. Apalagi Koko, dengan kecerewetan dan sikapnya yang gampang membaur, kerap kali dia ngobrol sama tukang (entah itu tukang jualan, tukang tambal ban, tukang fotocopy-ann, dan tukang2 lainnya) udah berasa kaya sahabat yang ngga ketemu 7 tahun, heboh hahaha. Kadang, kebiasaan gue yang suka senyum ke warga sana suka kebawa kalo gue lagi di Jakarta dan alhasil gue disangka ganjen terus digodain-_- 

Seperti yang udah gue tulis berkali-kali di atas, Solo bener-bener ngajarin gue kesederhanaan, walau pada kenyataannya Solo juga udah masuk kota-kota maju. Solo sendiri punya 3 mall, yang kalo ditambah sama mall2 di Solo Baru entah jadi ada berapa. Di sini juga ada Premiere, XXI, 21, dan Blitz nyusul, yang ngga perlu nunggu sebulan sampai dua bulan dari jadwal aslinya tayang buat nonton film-film terbaru. Ya, intinya kota kecil ini udah ngerti modernisasi, enggak se-pelosok yang kalian pikir. Tapi seiring dengan itu semua, tetep kesederhanaan kota ini yang justru bikin gue kangen. Gue cinta sama suasana Solo, walau gue benci banget sama teriknya yang cukup bnget ngebikin kulit gue dekil dalam hitungan hari. Dan tentunya, gue kangen buat berada di Solo karena cuma di sini gue bisa terdeteksi dalam radarnya Koko, begitu pula sebaliknya.
Read More